Tentang Penulis

Saya adalah seorang manusia biasa yang lahir ke bumi yang indah ini pada tanggal 28 September 1986 dari dalam rahim ibu saya yang sangat-sangat-sangat saya cintai, tentu saja kelahiran saya ini berkat usaha yang ayah saya lakukan dimulai dari proses PDKT kepada ibu saya, lalu dilanjutkan dengan lamaran dan pernikahan, selanjutnya ya anda semua taulah apa yang terjadi sehingga ibu saya akhirnya mengandung saya.. karena itu jualah saya sangat mencintai ayah saya (kalau ayah cukup 1 kali saja, sedangkan ibu 3x karena sesuai dengan hadis nabi yang pernah saya dengar tapi saya lupa lengkapnya).

Saya menghabiskan masa kecil (masa kecil saya sudah habis, kalau masih tersisa tentu saja saat ini saya akan menikmatinya lagi)  di sebuah desa kecil berjarak sekitar 30 km dari kota bogor. Dikelilingi oleh kebun bambu dan juga sungai yang mengalir dengan merdunya membuat masa itu menjadi masa yang menyenangkan.

Pada saat saya menginjak (entahlah apa maksud kata ini tapi saya sering sekali mendengarnya maka dari  karena itu maka saya menggunakannya) usia 7 tahun, ayah saya memindahkan saya, ibu saya dan adik saya ke daerah yang lebih dekat dengan kota (sekitar 2 km saja) meskipun kita semua dipindahkan tapi tidak dengan rumah saya, karena sangat sulit sekali memindahkan rumah dari satu tempat ke tempat lain. karena rumah saya tidak dibawa serta ke kota maka ayah saya memilih untuk menyewa rumah orang lain yang memiliki rumah berlebih.

Rumah baru saya itu berada di suatu gang yang bernama gang mushola, diberi nama mushola karena di ujung gang tersebut terdapat mushola sebagai sarana ibadah para warga, mungkin bila diujung jalan berdiri rumah pak RT maka gang tersebut akan diberi nama gang rumah RT (mungkin saja kan). pada saat itu, penghuni gang ini pasti kenal dengan saya karena setiap pagi saya selalu menangis dengan kencang karena dibangunkan oleh ayah saya untuk sholat subuh tetapi saya menolaknya maka tiap subuh selalu terjadi peperangan yang seru antara saya dan ayah saya. pertempuran berakhir dengan diseretnya saya ke mushola. walhasil selama penyertan itu saya tidak pernah berhenti menangis dan berteriak (mungkin ini salah satu cara untuk membangunkan para warga versi ayah saya).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s