From Land to Table

Kemarin, saya mengikuti sebuah seminar yang diadakan oleh FMIPA Unila, salah satu pembicaranya adalah Prof Kudang B.Seminar, Dekan Fateta IPB. Beliau berbagi tentang “High Performance Computing for Precision Agriculture.
 
Pembicaraan beliau dibuka dengan sebuah statmen
“Pertanian ibu bukan sekedar di kebun hingga panen lalu selesai, tapi pertanian itu meliputi dari pemilihan lahan, bibit hingga produk itu siap di meja” Lebih kerennya pake B.Inggris “From Land to Table” Bukan To table square square ya… kalau itu mah baju buat kampanye. Hehehehe….
 
Oleh karena itu maka setiap tahap harus dipersiapkan dengan matang. Salah satunya adalah dengan menyediakan data yang memiliki presisi yang tinggi. Bagaimana cara menyediakannya? Itulah peranan teknologi informasi agar dapat mewujudnyanya.
 
Salah satu contoh adalah pemilihan lokasi yang tepat untuk beternak ayam dengan menggunakan sistem “Boiler Closed House Farm” Ya kalau bahasa Indonesianya adalah Rumah Ayam sistem tertutup. Dengan menggunakan sistem ini, maka lingkungan sekitar ayam akan terjaga dengan baik, meliputi suhunya, kelembaban, pakan dan sebagainya. Untuk Bau dari kotoran ayam, akan dibuang dengan menggunakan blower.
 
Disitulah kendalanya, bau tersebut akan dibuang keluar sehingga akan membuat bau lingkungan sekitar. Oleh karena itu maka dibuatlah persyaratan lokasi yang diizinkan untuk mendirikan rumah ayam ini. Kira-kira ada 13 kriterianya, yaitu jarak ke sungai, jarak ke jalan, arah angin dan sebagainya.
 
Bila menentukan lokasi rumah ayam menggunakan ilmu kiro-kiro, susah lah, maka banyak kejadian rumah ayam ini didemo masyarakat karena mengganggu lingkungan sekitar. Solusinya adalah, menggunakan sebuah aplikasi yang mampu menerjemahkan ke 13 persyaratan tersebut ke dalam satu peta.
 
Jadi nanti, data sungai, jalan, dan sebagainya diolah oleh sebuah program, dibandingkan dengan kriteria yang ada sehingga muncullah lokasi merah, kuning dan hijau. Merah artinya tidak boleh karena tidak memenuhi sebagian besar persyaratan, kuning ada yang memenuhi namun rawan dan hijau artinya boleh.
 
Setelah melihat area-area pada peta tersebut, maka pengusaha ayam bisa lebih fokus saat akan melakukan survey lokasi pembangunan rumah ayamnya. Tentu saja dengan jaminan bahwa setelah berdiri, potensi didemo warganya akan berkurang.
 
Itu satu contoh, mungkin ke depannya, akan ada juga aplikasi yang mampu untuk menentukan tanaman apa yang pas ditanam di suatu daerah, cukup nyalakan HP dan aktifkan GPS, biarkan program yang berfikir untuk kita. Bila itu tercapai, maka potensi kegagalan saat bertani akan dapat diminimalisir.
 
Itu baru contoh dalam penentuan lahan, belum lagi penentuan bibit, panen, pengemasan, pemasaran hingga akhirnya bisa sampai di meja makan.
 
Namun kita stop dulu sampai disini, akan saya lanjutkan kapan-kapan…
 
Selamat Pagi..
Semoga anda mendapatkan manfaat dari tulisan saya ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s