Danau Toba

Jadi ceritanya tadi saya abis ngobrol dengan kawan yang berasal dari Sumatera Utara, tema pembicaran seputar kawasan wisata danau toba. Tema ini menjadi “hot” karena baru saja kemarin bapak presiden tercinta Jokowi berkunjung kesana dan mencetuskan Kawasan Danau Toba sebagai tujuan Wisata unggulan Indonesia.

Saya berpendapat bahwa kendala yang dihadapi oleh wisata danau toba adalah jaraknya yang cukup jauh dari kota Medan atau Bandara Kualanamu, sehingga para wisatan menjadi enggan berwisata ke sana. Sebagai gambaran, untuk sampai kawasan wisata danau toba membutuhkan waktu kira-kira 6 jam perjalanan. Oh ya, kebetulan juga, saya sudah pernah melintasi Danau Toba sebanyak dua kali baik jalur atas dan jalur bawah, makanya saya berargumen bahwa jarak yang jauhlah yang menjadikan danau toba menjadi tidak menarik lagi untuk dikunjungi.

Namun teman saya yang asli medan memiliki argumen lain, menurut dia setidaknya ada dua hal yang menyebabkan kawasan wisata danau toba tidak lagi menjadi tujuan objek wisata yang menarik, yang pertama adalah banyaknya eceng gondok yang mengurangi keindahan danau toba dan perilaku masyarakat terutama pedagang yang banyak mencari untuk sesaat.

Jadi eceng gondok itu banyak sekali bertebaran di danau Toba, sehingga wisatan menjadi tidak nyaman. Untuk menyelesaikan masalah ini perlu peran pemerintah beserta masyarakat sekitar untuk bersama-sama membersihkan eceng gondok tersebut. Eceng gondok sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk berbagai macam hal, minimal menjadi pupuk organik atau pakan hewan ternak, namun masalahnya adalah mengumpulkan eceng gondok dari danau yang luas membutuhkan sumber daya yang besar. Bila proses pembersihan dilakukan hanya oleh segelintir orang maka eceng gondok akan tetap banyak karena laju pertumbuhan eceng gondong lebih cepat dari pada laju pembersihannya.

Sedangkan mengenai perilaku masyarakat yang mencari untung sesaat seperti pedagang makanan yang tiba-tiba memberi harga yang tinggi kepada pembeli dengan asumsi bahwa pembeli itu hanya akan belanja saat itu juga. Pedagang-pedagang belum memahami konsep “keberlanjutan”, sehingga dalam pikiran mereka yang penting saat ini saya bisa mendapatkan untung sebesar-besarnya, kalau besok-besok itu urasan nanti lagi.

Padahal perilaku seperti itu yang akhirnya membuat image tidak baik dimata para wisatawan, dan menyebabkan wisatawan malas untuk kembali datang. Seandainya mereka memahami falsafah “anda kecewa beri tahu kamu, anda puas beri tahu kawan” tentu bisnis mereka akan berkembang, orang-orang akan semakin banyak yang mau berkunjung ke tempat tersebut.

Solusinya sebenarnya sederhana, berikan tarif di daftar menunya, sehingga pembeli sudah bisa membayangkan berapa biaya yang harus mereka keluarkan bila makan di tempat tersebut. Dengan begitu tidak akan ada perasaan kecewa saat mereka harus membayar biaya makan.

Demikian obrolan singkat dengan kawan saya tersebut…
Semoga cita-cita pak presiden untuk memajukan kawasan wisata danau toba dapat berhasil, sehingga mampu mengundang para wisatawan asing datang berkunjung. Bila semakin banyak yang berkunjung, temu semua orang akan senang. Warga senang, pemerintah senang, biro travel senang, semua senang…

Selamat beraktivitas semuanya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s