Petani dan Pendapatan Perkapita

Salah satu syarat yang harus dicapai untuk menjadi negara maju adalah memiliki pendapatan perkapita di atas 10.760 USD. Sebagai gambaran, saat ini pendapatan perkapita Indonesia hanya 4000 USD jadi masih sekitar jauh dari target yang ingin dicapai.

Lalu orang akan bertanya, ko negara-negara maju tersebut bisa sih memiliki pendapatan perkapita tinggi, sedangkan negara kita tidak bisa? sebuah pertanyaan cerdas yang akan memiliki jawaban beragam. Nah pada kesempatan ini saya akan menjawab versi ke-sotoy-an saya.

Rumus pendapatan perkapita adalah Penghasilan kotot suatu negara dalam satu tahun (GDP) dibagi dengan jumlah penduduk. Dimana GDP itu sendiri terdiri dari konsumsi + Investasi + Belanja pemerintah + (ekspor-impor). Dari rumus di atas maka untuk meningkatkan Pendapatan perkapita adalah dengan cara meningkatkan konsumsi, investasi, belanja pemerintah dan ekspor serta mengurangi impor. Hal itu berlaku dengan asumsi jumlah penduduk dipertahankan tetap.

Dari empat hal yang mempengaruhi nilai GPD, yang menyumbangkan persentase paling besar adalah pada konsumsi yang mencapai hampir 50% diikuti dengan Investasi (Pembentukan modal tetap) sekitar 30%, belanja pemerintah sekitar 10% dan sisanya adalah perubahan inventori, konsumsi LRT dsb (sumber BPS).

Sekilas sudah tergambar dari mana saja pemasukan itu datang, nah sebelum menganlisa lebih jauh, saya ingin menyampaikan satu buah data menarik dari BPS juga, namun sayangnya data tersebut belum update, tapi tetap bisa menjadi gambaran secara umum.

Pada tahun 2008, saat pendapatan perkapita nasional Indonesia di angka Rp 21 juta rupiah, Pendapatan perkapita rumah tangga buruh tani sekitar Rp 6 juta dan pengusaha pertanian sekitar Rp 11 juta. Di sisi lain pendapatan perkapita golongan rendah di kota mencapai Rp 19 juta sedang golongan tingginya mencapai Rp 40.000. Dari data diatas lalu kita konversikan ke dalam persentase agar lebih mudah untuk melihatnya. Pendapatan perkapita buruh tani hanya sepertiga pendapatan perkapita nasional, pengusaha pertanian sekitar 1/2 nya, golongan rendah sekitar 85% dan golongan tinggi hampir dua kali lipatnya. jadi perbedaan antara kelas buruh tani dengan golongan atas mencapai 7 kali lipat, Terlihat ketimpangan yang sangat besar.

Pendapatan petani yang sangat kecil karena rata-rata setiap petani hanya dapat mengelola lahan pertanian seluas 0,4 hektar. Lalu anda bertanya, berapa banyak uang yang dapat dihasilkan dari 0,4 hektar tersebut? Untuk memudahkan perhitungan, saya akan membuat asumsi bahwa lahan tersebut ditanami dengan padi dengan produktifitas 6 ton gabah per hektar dengan harga gabah sekitar Rp 4500/kg. Maka dalam sekali panen akan menghasilkan uang sebanyak Rp 27 juta per hektarnya, dikurangi biaya produksi sebesar Rp 3 juta maka akan didapatkan pendapatan bersih sekitar Rp 24 juta per hektar. Nah tiap petani hanya mengelola 0,4 hektar maka dalam satu kali panen hanya mendapatkan 9,6 juta rupiah. Dalam satu tahun hanya sekita Rp 19,2 Juta rupiah.

Pendapatan rumah tangga petani sebesar Rp 19,2 juta rupiah itu bila dibandingkan dengan Pendapatan perkapita Nasional Sebesar Rp 41 juta, maka pendapatan perkapita petani hanyalah setengahnya. Tidak jauh berbeda dengan data pada tahun 2008. Itu petani yang punya lahan, bagaimana dengan buruh tani? tentu penapatannya jauh lebih kecil lagi.

Dari data-data di atas, saya ingin sampaikan bahwa bila ingin meningkatkan pendapatan perkapita nasional, maka pemerintah jangan melupakan nasib para petani dan orang-orang yang bekerja di sektor pertanian, Menurut BPS, hampir 26 juta bekerja sebagai petani atau sekitar 25% dari angkatan kerja yang ada. Jangan lah pemerintah terlalu banyak mikirin orang kota yang gajinya relatif sudah besar, pemerintah harus lebih kenceng memberdayakan para petani tersebut. Bagaimana caranya?

Pertama adalah tingkatkan luas lahan pertanian tiap petaninya, misalkan bila sekarang hanya 0,4 hektar maka pada lima tahun kedepan ditargetkan rata-rata para petani bisa mengelola hingga 1 hektar tiap orangnya. Selain itu, tingkatkan juga kualitas dan produktifitas lahan tiap hektarnya dan tentu saja mulai kurangi impor produk-produk pertanian seperti beras, singkong, gula dsb.

Bila pendapatan perkapita petani tidak naik, ya sulit juga pendapatan perkapita nasional akan naiknya, yang ada malah kesenjangan yang makin lebar antara pekerja perkotaan dengan petani. Bila terlalu lama dibiarkan, lama-lama mereka akan furstasi dan bisa-bisa mereka akan marah dan melakukan hal-hal yg tidak diinginkan..

Jayalah negeriku…
jayalah petaniku
0,37
60 juta petani

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s