Cerita Tentang SNI

Jadi ceritanya…
Hari ini saya abis menjadi observer kegiatan audit salah satu produk yang wajib berlogo SNI. Banyak cerita yang saya dapatkan, dan beberapa diantaranya cukup menarik. Maka izinkan saya untuk bercerita tentang pengalaman saya hari ini.
1. Saya sudah pernah mengemukakan hal ini berkali-kali, tapi biarlah saya ulangi lagi. Penerapan SNI wajib untuk beberapa produk di Indonesia itu memiliki tantangannya tersendiri, satu sisi penerapan SNI bertujuan untuk melindungi konsumen dan juga industri dalam negeri, disisi lain juga membuat beberapa IKM yang tidak memiliki modal yang cukup terpaksa gulung tikar. Bayangkan, untuk mengurus SNI dibutuhkan dana hingga sekitar 50 juta, meliputi pelatihan (8 juta), jasa konsultasi (10-23 juta) serta biaya audit (16juta).
Nah perusahaan yang saya audit ini sepertinya hanya mengambil paket pelatihan dan audit saja tanpa membayar biaya konsultasi. Hasilnya adalah, dokumen nya hancur lebur, Prosedur mutu dan instruksi kerja tidak lengkap, format-format tidak pada diisi, tidak ada audit internal, tidak ada tinjauan manajemen dan problem lainnya. Sampai sampai lead auditor berkata “pusing pala berbie”
wkwkwkwkwkw…..
2. cerita kedua tidak terlalu terkait dengan dokumen, tapi lebih kepada strategi dagang terutama pada bagian Pricing (harga jual) dan ukuran kemasan. Penentuan harga jual ini sangatlah penting dan krusial bagi perusahaan karena menentukan apakah produk tersebut akan laku dipasaran atau tidak.
Dalam industri yang saya audit saya ini, setidaknya ada 4 pihak yang terlibat yaitu produsen –> Sales –> Pengecer –> Konsumen. Nah penentuan harga jual ini sangat dipengaruhi oleh berapa margin yang akan didapat oleh pengecer. Kualitas produk tidak terlalu dipikirkan oleh konsumen, karena konsumen akan membeli produk berdasarkan ketersediaannya di pasar.
Agar lebih mudahnya adalah sebagai berikut.
Produsen lebih memilih membuat produk dengan ukuran kemasan 200, 300 dan 400 gram perkemasan dibandingkan dengan membuat ukuran kemasan 250 dan 500 gram. Kenapa?
karena untuk harga kemasan 200 gram harga perpak nya adalah Rp 3000-3500 (1 pak 10 buah), oleh pengecer dijual dengan harga Rp 500, sehingga tiap satu pak pengecer akan mendapatkan keuntungan sebesar Rp 1500-2000. Begitu juga dengan ukuran 400 gram, harga perpak 6000-6500 dan harga jual Rp 1.000 per kemasan. Hingga perpak akan mendapatkan keuntungan sekitar 3500-4000.
Angka Rp 500 dan Rp 1000 menjadi patokan harga jual karena tidak sulit untuk mencari kembalianya.
Sekarang misalkan produsen membuat produk dengan kemasan 250 gram, maka harga perpak nya bisa jadi Rp 3500-Rp 4000. Dengan harga jual yang tetap Rp 500. Kenapa harga jualnya tetep Rp 500? karena pedagang malah akan repot mencari kembalian bila harus menjual dengan harga Rp 600 atau Rp 700 misalnya. Jadi daripada jual yang ukuran kemasan 250 gram, ya mending jual yang 200 gram saja.
Begitu juga yang ukuran 400 gram, kalau diganti jadi 500 gram, maka harga perpak nya jadi sekitar 7000-8000, dimana harga jual perkemasan tetep 1000. ga mungkin juga kan jual dengan harga 1100 atau 1200.
Hehehe…
jadi nambah2 ilmu nih buat saya…
gitu dulu aja ceritanya..
selamat sore semuanya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s