Malesnya kalau disuruh belanja

Mengurus keuangan negara itu ribet…

Dari sekian banyak pekerjaan kantor, satu hal yang paling males itu kalau disuruh belanja.

Kenapa..?
Pertanyaan yang bagus saudara-saudara..
Baiklah akan saya jelaskan..

Saya ambil contoh, suatu ketika saya disuruh beli tas gendong sebanyak 50 buah untuk kegiatan pelatihan. Maka Langkah pertama yang harus dilakukan adalah menanyakan budget yang tersedia. Budget ini sudah masuk di dalam Rencana Kerja dan Anggaran-Kementerian dan Lembaga atau disingkat dengan (RKAKL). Misalkan angka yang tertera adalah Rp 5.000.000,- untuk 50 buah tas, artinya adalah satu tas seharga Rp 100.000,-

Dari nilai itu, saya harus kurangi terlebih dahulu dengan besaran pajak yang harus dibayarkan meliputi Ppn dan juga Pph. Nilainya Ppn itu sebesar 10% dan Pph itu besarnya 1.5% apabila toko nya sudah punya NPWP dan 3% bila tokonya ga punya NPWP. Otak atik lah di Excel untuk mendapatkan berapa harga tertinggi barang yang bisa dibeli sebelum pajak. Oh ya, ngurangi pajaknya tuh ga langsung 13%, tapi dikurangi pph dulu, baru ppn. sampai sekarang gw juga kaga ngarti ngitung nya biar dapet angka yang pas.

Dari 100 ribu, maka akan ketemu angka sekitar Rp 86.000,- per buah tas. Jadi saya harus beli tas dengan harga maksimal Rp 86.000.

Lalu pergilah saya ke pasar untuk membeli tas tersebut. Dapatlah saya harga tas senilai Rp 80.000,- Lalu saya belilah ketukang dagang itu tas sebanyak 50 buah. Setelah selesai, maka si abang akan ngasih nota sesuai dengan harga beli yaitu Rp 80.000 x 50 = Rp 4.000.000,-

Lalu pertanyaanyanya, darimana uang buat bayar pajaknya? karena untuk pembelian suatu barang, kuitansi yang dilaporkan harus satu buah meliputi harga pokok, ppn dan juga pph.

Maka saya bilanglah ke tukang dagang tersebut, bang, nanti di kuitansinya tolong ditulisnya jangan Rp 4.000.000 ya, tapi tambahi pajak 13%. Jadi ditulisnya Rp 4.520.000,- Yang jadi masalah adalah, banyak toko yang ga ngerti hal beginian. Mereka nganggap saya nge mark up harga buat kepentingan saya sendiri. Jadi pas saya minta tambahi angkanya tesebut, mereka ga mau. Terus kalau sudah begini, aku harus piye..? Ga jadi belanjanya? atau nyari toko lain yang mau?

Oke, misalkan urusan dah selesai, lalu saya hitung-hitung, lah kuitansi tadi kan pake materai Rp 6.000. Terus parkirnya Rp 5.000, lah itu masuk kemana pertanggung jawabannya. Belum lagi kalau belanjanya ngajak pegawai honorer, masa kita ga ngasih barang beli es kelapa. Terus aku harus Piye..?

Ya tapi kalau sekali-sekali mah ga apa-apa toh, wong sudah digaji ini ma negara. jadi harus siap selalu menghadapi segala hal.

Tapi ya itu masalahnya, bukan masalah uangnya sih, tapi masalah harga diri aja… kadang suka malu kalau minta harga di kuitansinya ditambahin, takut dikira korupsi. Nanti tukang dagangnya ngerupi ma temen-temennya, dasar itu PNS, kalau nulis di Kuitansi pasti minta dinaik-naikkin.. dasar PNS…

Jadi aku kudi Piye… Ya jalani aja toh…

NB : untuk kawan-kawan ku yang punya lapak, kalau ada PNS beli barang dianda terus minta ditambahi 13-15% dari harga barang, ya dibantu lah.. Bukan buat dikorupsi ko, tapi ya itu tadi, buat bayar pajak, beli materai, bayar parkir ma beli es buat yang nganter..

Demikian curhatan saya sebagai PNS yang harus menghadapi ribetnya pertanggung jawaban keungan saat belanja…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s