Sawit dan Masyarakat Kecil

Pagi ini, izinkan saya untuk bertutur kepada anda tentang dua hal namun masih dalam satu tema yang sama yaitu kelapa sawit.Semoga apa yang saya tuturkan bisa memberikan sedikit tambahan pengetahun bagi anda dan juga saya tentunya.

1. Banyak dari kita yang mengecam keberadaan perkebunan sawit, karena merusak hutan lah, menyebabkan kebakaran, mengusir orang utan dan gajah dari habitatnya dan beragam cerita negatif lainnya. Hal tersebut memang tidak bisa kita pungkiri karena kenyataannya memang seperti itu. Efek negatif itu semakin terasa kepada kita dalam 4 bulan terakhir ini, yup asap yang menyelimuti beberapa pulau di Indonesia telah menguras energi yang sangat besar.

Namun tahukah anda, bahwa hampir setengah perkebunan sawit itu dimiliki oleh masyarakat kecil. Ada yang hanya punya satu hektar, dua hektar, 10 hektar atau mungkin ratusan hektar.
Dan tahukah anda bahwa saat ini harga sawit sedang jatuh terjerembab, hanya sekitar USD 530 per ton nya. Dan akibatnya adalah harga TBS menjadi jatuh hingga hanya Rp 700 per kg, bahkan ada yg hanya dihargai Rp 500 per kg.

Dan tahukah anda, bila harga sawit jatuh, yang paling dirugikan adalah petani-petani kecil. Mereka tidak memiliki pilihan lain, mempertahankan pohonnya tanpa tahu kapan harga akan kembali pulih, atau harus menebangnya dan mengganti dengan tanaman lain dengan konsekuensi harus menyiapkan dana yang tidak sedikit untuk melakukan proses pembersihan lahan, pembelian bibit, pupuk dsb.

Bagaimana dengan perusahaan besar? Ya mereka mungkin akan sedikit merasakan dampak negatif tersebut, namun karena mereka disokong oleh dana yang besar dan didukung oleh banyak orang pintar di kantornya, ya mereka tinggal membuat rencana bisnis baru saja, selesai urusan.

2. Kemarin pak Presiden mengunjungi suku anak dalam, lalu beliau menjanjikan untuk membangunkan rumah permanen untuk mereka. Bagi kita orang kota, maka rencana presiden tersebut sangatlah bijaksana, baik hati karena mau membangunkan rumah yang “layak” bagi mereka.

Namun menurut saya, berdasarkan cerita-cerita yang pernah saya baca, hal tersebut sebenarnya bukanlah pilihan bijak. Kenapa? (saya sebenarnya pernah menulis tentang ini, tapi akan saya tulis kembali saja)

Suku anak dalam itu hidup menyatu dengan alam, hutan adalah tempat tidur mereka, rumah mereka, tempat mencari makan bagi mereka dan hutan adalah segala-galanya bagi mereka.

Memindahkan mereka dari hutan ke rumah baru yang berada di luar hutan itu seperti halnya memberi hadiah pada nenek kita Iphone 6s. Akan ada culture shock, mereka akan kebingungan mencari makan, mencari obat-obatan, dan juga kebutuhan hidup lainnya.

Hal ini pernah terjadi di perkebunan sawit di papua, masyarakat yang biasa mencari makan di hutan, tiba-tiba disuruh bekerja di kebun sawit dengan sistem gaji. Sebulan mereka bisa bertahan, namun karena hutan adalah dunia mereka, akhirnya mereka tidak tahan dan kembali lagi lah mereka ke hutan.

Sebagai penutup, apa yang ingin saya sampaikan adalah, Industri sawit ini memiliki dua sisi, sisi menguntungkan dan merugikan. Yang menjadi masalah adalah, keuntungan selalu berpihak pada korporasi besar sedangkan kerugian selalu menimpa masyarakat kecil.

Harga sawit jatuh yang rugi petani kecil
Pembukaan lahan baru, yang rugi penduduk asli.

Nah,disitulah peran pemerintah, membuat regulasi yang lebih berpihak kepada kepentingan rakyat kecil, bukan kepada korporasi besar.

Sekian….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s