Kita, Industri Sawit dan Kelestarian Alam

Saat kita masih kecil, sebelum berangkat ke sekolah biasanya Ibu selalu mengingatkan kita untuk sarapan demi menjaga asupan energi agar kita bisa beraktivitas dengan baik dari pagi hingga siang hari.

Namun waktu di pagi hari sangatlah singkat dengan beraneka ragam kegiatan yang harus dikerjakan seperti Shalat subuh, mandi, menyiapkan perlengkapan sekolah dan juga sarapan. Apalagi bagi Ibu kita yang juga disibukkan dengan aktivitas lainnya seperti mencuci baju, membangunkan anak-anak, menyiapkan baju seragam dan tentu saja menyiapkan sarapan untuk anak-anak dan suaminya.

Karena terbatasnya waktu yang dimiliki di pagi hari, maka biasanya Ibu akan menyiapkan sarapan berupa makanan-makan yang mudah dibuat, misalkan saja mie goreng, telur dadar, goreng tempe dan tahu atau pun roti tawar diolesi margarin dan ditaburi cokelat di atasnya.

Kebiasaan sarapan tersebut akan terus terbawa hingga dewasa. Bila merantau untuk berkuliah, terutama untuk anak-anak kost, pagi hari itu sangat cepat karena biasanya mereka selalu terlambat bangun. Mereka tidak sempat lagi untuk menyiapkan sarapan di rumah atau kost. Maka pilihan sarapan pagi yang paling mudah adalah nasi uduk dengan lauk goreng tempe atau tahu, atau setangkup roti tawar yg dilumuri dengan mentega. Mudah, gampang dan tentu saja mampu mengganjal perut hingga siang hari.

Namun sadarkah kita bahwa saat kita menyantap makanan-makanan tersebut (seperti margarine, gorengan, telur dadar) secara tidak langsung kita telah turut serta melakukan pengusiran terhadap orang utan dari habitatnya, atau ikut andil dalam kematian-kematian gajah, Ko bisa sih?

Tanpa kita sadari, makanan yang kita konsumsi mengandung minyak sawit yang berasal perkebunan-perkebunan yang tumbuh di atas lahan yang tidak semestinya. Lahan yang seharusnya menjadi hutan baku primer atau bernilai konservasi tinggi dialihfungsikan menjadi perkebunan sawit. Hutan yang seharusnya menjadi habit beraneka ragam sata seperti gajah, orang utan, harimau dan lain sebagainya ditebang untuk selanjutnya di tanami pohon kelapa sawit

Perubahan fungsi tersebut menjadikan hewan-hewan penghuni hutan menjadi terusir dari rumahnya karena mereka menjadi kesulitan mencari makanan. Sebagai contoh adalah orang utan dan juga gajah. Agar mereka dapat bertahan hidup, mereka akan keluar dari hutan dan memasuki area-area perkebunan yang dimilik petani lokal ataupun perusahaan-perusahaan besar.

Diposisi inilah masalah semakin berat, petani yang merasa tergganggu dengan kehadiran orang utan dan gajah di perkebunan milik mereka akan melakukan perlawanan. Mereka mengusir, memburu  bahkan sampai membunuh hewan-hewan tersebut dengan alasan bahwa hewan-hewan tersebut telah merusak kebun mereka, memakan dedauan, buah-buahan dan juga sayur-sayuran yang mereka tanam.

Konflik seperti itu sudah banyak terjadi di area perkebunan yang berbatasan dengan hutan ataupun perkebunan yang berasal dari alih fungsu hutan. Hal tersebut disebabkan karena masifnya pembukaan lahan untuk ditanami kelapa sawit. Bila kita amati secara seksama, perkembangan industri sawit nasional selama 20 tahun terakhir telah berlangsung sangat cepat, hampir setiap tahun luas area perkebunan sawit bertambah sebanyak 7%. Bahkan pada tahun 2015 diperkirakan 11 juta hektar lahan telah ditanami kelapa sawit.

Pembukaan lahan untuk perkebunan sawit secara masif disebabkan karena pemikiran pelaku industri sawit yang masih sangat tradisional, mereka berfikir bahwa semakin luas area yang ditanami kelapa sawit maka keuntungan yang mereka dapat akan semakin besar pula.

Namun bila melihat dari trend harga jual minyak sawit mentah (CPO) selama tiga tahun terakhir ini, peningkatan jumlah produksi minyak sawit malah berefek negatif pada harga jualnya.  Pada tahun 2011 harga CPO per ton masih di angka USD 1200, pada tahun 2014 harga jualnya jatuh menjadi hanya USD 800 per ton, bahkan pada awal oktober 2015 harganya hanya berkisar antara 600 ton saja.

Jadi sebenarnya sudah tidak ada alasan lagi bagi para pelaku industri sawit untuk membuka lahan baru untuk ditanami sawit apalagi sampai menghancurkan hutan baku primer atau kawasan bernilai konservasi tinggi lainnya. Karena dari sisi lingkungan itu merusak lingkungan, dan dari sisi ekonomi supply yang terlalu berlimpah akan menggerus harga sawit hingga titik terendah.

Saat ini yang lebih dibutuhkan oleh industri sawit adalah menerapkan manajemen pengelolaan perkebunan berbasis pada kelestarian lingkungan. Salah satu caranya adalah dengan mengikuti panduan yang diberikan oleh RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil). Perusahaan yang telah memenuhi persyaratan akan mendapatkan logo RSPO, dimana dengan menggunakan logo tersebut artinya produsen minyak sawit sudah menerapkan dan menegakan standar konsistensi dengan hukum hak asasi manusia internasional dan menghormati hak masyarakat.

Untuk mendapatkan sertifikat dari RSPO perusahaan yang memproduksi minyak sawit harus mempromosikan cara produksi minyak sawit yang berkelanjutan, mengindari deforestasi, ikut serta dalam melestarikan keanekaragaman hayati, serta mengargai kehidupan masyarakat pedesaan di sekitar perkebunan.

Dengan adanya logo RSPO pada produk yang dijual, banyak keuntungan yang akan didapat baik oleh produsen, konsumen dan juga lingkungan hidup. Dari sisi produsen, mereka dapat memperluas pasar bagi produk mereka dengan menjualnya ke negara-negara yang mensyaratkan sertifikasi RSPO bagi produk sawit dan juga ke negara-negara yang masyarakatnya sangat peduli pada kelestarian lingkungan

Keuntungan bagi konsumen adalah bisa menikmati beraneka ragam makanan olahan yang memiliki kandungan minyak sawit dengan tenang karena yakin bahwa apa yang mereka konsumsi dihasilkan dari perkebunan yang tidak merusak hutan dan menganggu satwa di dalamnya

Sedangkan bagi lingkungan, RSPO dapat mengembalikan hutan sesuai dengan fungsi awalnya yaitu sebagai paru-paru dunia dan tempat tinggal bagi beraneka ragam flora dan fauna. Masyarakat disekitar perkebunan dapat hidup berdampingan dengan perkebunan, hutan dan juga hewan-hewan yang ada di dalamnya.

Sebagai penutup, sebagai konsumen kita harus makin peduli dengan makananan yang akan dikonsumsi. Kita harus mengecek terlebih dahulu apakah makanan tersebut berasal dari perkebunan yang peduli akan kelestarian alam, ataukah berasal dari perkebunan yang tidak jelas status lahannya. Caranya adalah dengan membeli produk yang sudah tertera logo RSPO dikemasannya. Bila kita sebagai konsumen makin peduli dengan kelestarian lingkungan, mau tidak mau perusahaan akan ikut terdorong untuk memproduksi minyak sawit dengan memperhatikan kelestarian alam. Sehingga semuanya dapat tersenyum dengan senang gembira.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s