Hilirisasi [lanjutan]

[Lanjutan tentang Hilirisasi]

Jadi mana yang harus dilakukan, Hilirisasi atau tetap meng-ekspor komoditas?

Jawabannya sederhana, yaitu tergantung mana yang menjadi prioritas, kestabilan jangka pendek atau keuntungan jangka panjang.

Kalau mau egois, yang penting zaman saya semuanya senang, maka tidak perlu lah hilirisasi. Sedangkan kalau kita berharap bahwa anak cucu kita kelak yang akan menikmati hasilnya, maka program hilirisasi harus mulai dilakukan secepatnya.

Semenjak zaman pak soeharto, prinsip pertama lah yang dilakukan oleh beliau. Dalam masa pemerintahannya, ekspor komoditas adalah tumpuan utama untuk mereguk dollar. Semakin banyak komoditas yang diekspor maka semakin banyak juga dollar yang masuk ke kas negara.

Namun disisi lain, banyaknya komiditas yang dieskpor akan berkorelasi pada semakin banyaknya hutan yang dibuka serta tanah yang digali. Hasilnya adalah terganggunya kestabilan ekosistem..

Namun dari sisi ekonomi, ekpor barang mentah berhasil memberikan kestabilan ekonomi Nasional dalam jangka pendek.

Nah, gara-gara mereka terlena dengan kestabilan itu, mereka lupa bahwa suatu saat hutan dan barang tambang akan habis, padahal bila masa itu telah datang,maka kerugian yang lebih besar lah yang akan terjadi.

Baru pada beberapa tahun terakhir isu tentang hilirisasi mulai gencar disuarakan, terutama oleh kampus-kampus dan lembaga riset berbasis teknologi. Coba baca proposal-proposal mereka, biasanya akan tercantum kata-kata “untuk meningkatkan nilai tambah”

Saya rasa baru 10 tahun terakhir ini era dimulainya pemerintah membuat kebijakan untuk mengola komoditas didalam negeri sebelum di ekspor. Kebijakan yang dikeluarkan dimulai dari yang halus seperti pemberian bea keluar bagi ekspor komoditas seperti pada cacao dan sawit hingga yang paling tegas seperti pelarangan ekspor biji mentah pada industri pertambangan.

Nah yang menarik adalah Untuk cacao dan sawit program hilirisasi cukup berhasil, hal tersebut dapat dilihat dari semakin banyaknya industri hilir berbasis komoditas tersebut. Perbedaan harga yang mencolok lah yang membuat mereka tertarik untuk membuat industri pengolahan di dalam negeri.

Nah hal aneh terjadi pada industri Mineraba.Mineraba yang aturan pelarangan ekspor barang mentah nya lebih tegas (dalam bentuk UU), dan diberi tenggat waktu selama 5 tahun untuk implementasinya, ternyata program hilirisasinya sangat terseok-seok.

Sehingga seperti yang dikatakan oleh seorang ekonom, program hilirisasi telah merusak industri mineraba (salah satu contohnya bauksit), berapa banyak tenaga kerja yang harus dirumahkan? berapa dollar potensi pemasukan negara yang hilang, dsb..?

Kenapa hilirisasi yang niat nya bagus, malah membawa malapetaka bagi sebagian orang..? Ko yang tegas malah gagal, sedangkan yang halus malah berhasil

Mau tau jawabannya..?
nanti saya lanjut ya kalau sempat..
xixixixixix

*lanjut nulis paper lagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s