Apakah kita menebar kebencian, atau kah kita hanya berada pada gelombang yang berbeda?

Pada dasarnya manusia itu berbeda, bagaimanapun anda berusaha untuk menghilangkan perbedaan itu, niscaya usaha anda itu akan sia-sia.

Perbedaan itu bisa banyak jenis-nya, dimulai dari SARA, IP, tingkat kegantengan, pilihan politik, pilihan klub bola, bahkan selera humor setiap orang pun berbeda.

Karena adanya perbedaan tersebut maka menyebabkan komunikasi kadang menjadi terhambat. Hal tersebut lah yang menyebabkan manusia itu tidak menyukai perbedaan

Nah, karena pada dasarnya manusia itu tidak suka perbedaan, maka dia akan berusaha untuk berkumpul dengan orang yang memiliki kesamaan dengan dia. Maka terbentuklah fans klub Barcelona, Juventus, Real Madrid, dsb.. Penggemar musik Jazz, koplo, dangdut, Pop, Rock dsb.. Lalu berkumpul juga lah penggemar lawak satir, lawak berdiri, lawak versi wayang, lawak versi sitkom dsb…

Atau saat mencari pasangan, mencari ada nya kesamaan, sama-sama suka traveling, sama-sama kuliah di satu kampus, sama-sama anak rohis, dan kesamaan-kesamaan lainnya.

Kenapa? Sekali lagi karena pada dasarnya manusia itu tidak suka akan perbedaan. Lalu ada orang yang bilang, “ah masa sih? saya menerima perbedaan ko, saya orang yang bertoleransi ko.”

Oke, kalau begitu, misalkan anda tidak merokok, lalu anda ngobrol bareng di kamar dengan 4 orang perokok berat. Apakah anda akan tetap menerima perbedaan tersebut? Mungkin ada orang yang seperti itu (lalu saya tunjuk tangan.. heheheheee…)

Itu baru masalah rokok, apalagi untuk hal yang lebih kompleks, misalkan gabungan antara pilihan politik dan selera humor. Maka sudahmah pilihan politiknya berbeda, selera humornya pun berbeda, maka runyamlah dunia..

Oleh karena itu maka menyadari, memahami, dan menghayati bahwa perbedaan itu ada adalah dasar dari timbulnya toleransi antara sesama. Semakin kita sadar bahwa perbedaan ada dalam berbagai macam bentuk, maka kita pun akan semakin bertoleransi.. sehingga yang dibutuhkan dalam hidup adalah meningkatkan kapasitas toleransi kita terhadap perbedaan yang ada.

Sebagai contoh:

Mungkin bagi sebagian orang, menshare sebuah berita dengan sedikit bumbu-bumbu adalah salah satu jenis selera humor nya, atau memamerkan wajah tidak jelasnya sambil bergaya bak tokoh tertentu adalah cara dia meng eksperesikan perasaan yang ada dalam dirinya.

Namun karena orang lain menangkapnya dengan sudut pandang dan gelombang yang berbeda, maka hal yang seharusnya menjadi humor bagi si pembuat malah akan dianggap sebagai menebar kebencian bagi orang lain yang membacanya., atau dianggap mengganggu pemandangan.

Kenapa itu bisa terjadi? ya karena manusia itu pada dasarnya berbeda. Berbeda selera humor, berbeda pilihan politik.

Padahal bila kita bisa memahami bahwa hal tersebut adalah sebagai bentuk ekspresi diri dari sipembuat, maka kita dapat bertoleransi terhadap perbuatannya tersebut. Namun begitu pula sebaliknya

Padahal, bila kritikan dan sindirian berbalut humor “menurut selera pembuat” itu dianggap menebar kebencian, lalu bagaimana dengan musisi yang membuat lagu kritik sosial? pelukis yang mengkritisi penguasa dengan lukisannya, pentas teater yang mengkritik penguasa, atau pembaca puisi yang juga banyak mengkritik penguasa? Apakah mereka juga disebut dengan orang-orang yang menebar kebencian..?

Sekali lagi, perbedaan itu ada. Dan kita harus menyadari bahwa perbedaan itu ada. Dengan menyadari bahwa perbedaan itu ada, maka kita akan meng instrokspeksi diri kita sendiri dan kita akan mulai bertoleransi terhadap orang lain…

Yang bahaya adalah manakala kita menganggap diri kita itu memiliki toleransi yang besar lalu karena itu maka kita menjadi hobi mengkritik orang-orang yang berbeda selera dengan kita sebagai orang yang tidak bertoleransi..

Selamat malam semuanya..

*lalu ada yang komentar, tapi dia kerjaannya nyebarin berita hoax. (yang nyebarin kan dia, yang dosa kan dia, kan urusan moral itu katanya urusan masing-masing) lah terus kenapa harus kita yang sewot

Udah ah, diterusin jadi panjang…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s