Gerakan Mahasiswa yang Sedang Masuk Angin

Akhirnya saya punya waktu yang cukup luang untuk menulis lepas.

Saya mau bersotoy ria membahas tentang pergerakan mahasiswa di era baru.. Era baru saya definisikan sebagai sebuah era yang dimulai dari semanjak dilantik nya Bapak Jokowi sebagai Presiden RI yang ke-7.

Kurang lebih selama 6 bulan terakhir ini kondisi kehidupan nyata di Indonesia relatif kondusif, tidak ada demo besar-besaran yang terjadi, ataupun demo kecil-kecilan yang dilakukan secara kontinyu. Bila pun ada sedikit dinamikia, itu hanya berlangsung sesaat dan persebarannya pun tidak merata, misalkan hanya di gedung KPK, atau di Media Sosial.

Beberapa isu yang biasanya mengalami penolakan keras dari masyarakat dapat bergulir secara mulus, sebagai contoh ya pencabutan subsidi BBM dan isu kenaikan Upah Buruh. Relatif dua kejadian tersebut berlangsung dengan damai tanpa ada penolakan.

Kenapa itu bisa terjadi?

Ini analisa sotoy saya, kalau anda mau membantah, mendebat, ya silahkan.

Secara garis besar, pergerakan di Indonesia terdiri dari dua lapis, yang pertama adalah lapis rakyat dan yang kedua adalah Politisi. Dua lapis ini saling membutuhkan dan juga saling bertentangan.

Menariknya adalah sebuah isu besar haruslah didukung oleh kedua lapis tersebut, bila salah satu lapisnya masuk angin maka pergerakan yang dilakukan akan sia-sia.

Mari kita bahas secara lebih mendalam tentang kedua lapis tersebut.

Pada Lapis rakyat terdiri dari kaum buruh, kaum tani, kaum mahasiswa dan rakyat kebanyakan. Saat ini kaum buruh relatif solid karena kuatnya organisasi buruh yang ada di Indonesia, itu tidak lepas dari dukungan Undang-undang yang menjamin para buruh tersebut untuk berserikat dan berkumpul. Namun disisi lain, kaum tani mengalami situasi yang amat sulit karena tidak adanya organisasi tani yang solid, meskipun ada organisasi perkumpulan petani namun organisasi tersebut tidaklah membumi. Sedangkan rakyat kebanyakan relatif apatis, mereka lah orang Indonesia asli yang memiliki sifat nerimo. Asal besok masih bisa makan, minum kopi, dan bersenda gurau dengan keluarga maka seluruh urasan dunia sudah selesai.

Nah satu lagi adalah mahasiswa.

Membahas mahasiswa bisa dilakukan dari berbagai macam sudut, basis kampus, atau basis organisasi ekstra kampus. Semenjak diterapkannya NKK BKK, gerakan mahasiswa berbasiskan almamater relatif masuk angin. Tidak ada gerakan-gerakan besar yang dilakukan oleh mereka, Kalaupun ada isu yang naik, itu relatif sesaat lalu menghilang.

Sebagai gantinya adalah gerakan mahasiswa berbasiskan organisasi ekstra kampus, sebenarnya pengetahuan saya tentang ini kurang mendetail, tapi saya akan coba tampilkan berdasarkan pada pengetahuan saya.

Gerakan pertama yang berbasis kan gerakan sosialis, atau kita sebut kiri. Nama-nama organisasinya saya kurang hapal, lalu kanan seperti KAMMI dan tengah sebagai contoh adalah HMI.

Hebatnya gerakan berbasis ekstra kampus adalah ketersediaan sumber daya manusia yang menyebar di senatro Indonesia, setiap ada kampus, biasanya akan ada organisasi-organisasi tersebut. Sehingga saat satu melakukan aksi, maka akan diikuti oleh elemen-eleman masa lainnya. Hal ini lah yang menyebabkan pergerakan mahasiswa tersebut telihat masif.

Sekarang terlihat bedanya kan, kalau isu hanya diangkat oleh satu kampus, maka kampus lain belum tentu akan merespon isu tersebut karena tidak adanya kesamaan visi dan misi. Sedangkan organisasi ekstra kampus memiliki kesamaan visi dan misi dimanapun mereka berada.

Sekarang kita beranjak pada lapis elit.

Lapis ini kita bagi menjadi dua, eksekutif dan Oposisi.
Posisi eksekutif saat ini sangatlah strong karena didukung figur yang “terlihat” sangat merakyat. Selalu menyapa masyarakat sambil tidak lupa menyelipkan oleh-oleh, didukung akademisi yang mupuni, didukung ahli marketing yang handal, menampilkan wajah lugu tak berdosa dan kemampua negosiasi dengan lawan politik yang patut diacungi jempol.

Sedangkan posisi oposisi saat ini relatif sedang masuk angin, selain dua partai pendukungnya sedang disibukkan dengan pengadilan, salah satu partai nya sedang menjajaki untuk pindah posisi sehingga tersisa dua partai yang relatif memiliki suara yang kecil.

Apalagi, salah satu partai tersebut sedang menjadi “common enemy”, apapun yang dilakukan oleh mereka selalu mendapatkan respon negatif dari masyarakat.

Oh ya, ada satu partai lagi, tidak di eksekutif, dan juga tidak oposisi. Untuk partai ini, biarkan saja dia pada posisinya.

Dari penjelasan tentang lapisan-lapisan di atas, kondisi saat ini adalah:

Gerakan mahasiswa masuk angin karena organisasi ekstra kampus nya tidak mendapatkan dukungan dari lapisan politisi. Yang kiri, saat ini bos-bosnya sudah masuk jajaran elit, jadi buat apa harus turun ke jalan lagi. Sedangkan yang Kanan, sedang meredam gerakan, karena lapisan elitnya juga sedang meredam gerakan, kenapa? karena apapun yang mereka lakukan akan mendapatkan respon negatif.

Sedangkan yang tengah? nah ini dia, setelah salah satu komandan nya di lingkup elit masuk penjara, relatif merekapun mengerem pergerakan mereka. Ntah apa yang sedang mereka lakukan.

Jadi, kiri sudah duduk nyaman, kanan sedang meredam pergerakan, tengah tidak jelas, yang tersisa adalah pergerakan sporadis di Jalanan.

Karena pergerakannya sporadis dan tidak ada lapisan elit yang mendukung, dalam satu atau dua hari maka gerakan merekapun akan segera lenyap.

Jadi…
Omong kosong lah itu gerakan yang mau menggulingkan Jokowi…
Potong itu leher ayam kalau sampai Jokowi lengser…
Seperti teman saya bilang.. Jokowi akan bertahan sampai 2019 dan bahkan bisa lanjut sampai 2024…

Hidup Jokowi..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s