Upacara Bendera di Adelaide bagian 2

Mari kita lanjutkan kembali cerita hari kemarin. Untuk saat ini saya usahakan sebisa saya menulis, kalau saya cape maka saya akan berhenti pada titik tersebut. Saran saja buat yang suka baca status-status saya yang berada dalam kategori panjang, kali ini statusnya akan sangat panjang, jadi siapkan diri anda secara baik-baik alau bisa sambil menikmati secangkir teh hangat ditemani oleh biskuit.

Upacara bendera kali ini sangat spesial, walaupun saya tinggal jauh dari Indonesia namun saya masih bisa menyaksikan ibu-ibu dan bapak-bapak berseragam korpri di barisan peserta upacara. Wah apa ini konspirasi ya sehigga bisa-bisanya di kota yang jaraknya ribuan kilometer dari jakarta namun masih banyak orang yang menggunakan seragam batik biru itu? Selidik punya seledik yang tentu saja tidak melibatkan detektif, akhirnya saya tahu bahwa orang berseragam korpri itu adalah PNS dari provinsi Jawa Barat. Jumlah mereka lebih dari 40 orang yang terdiri dari 2 rombongan yaitu guru smk dan para kepala sekolah SMA dari berbagai kota di Provinsi Jawa Barat.

Mereka sedang melakukan kegiatan training atau kalau bahasa kerennya adalah study banding. Jadi mereka disebar di berbagai sekolah yang ada di adelaide untuk mempelajari tentang sistem pendidikan dan proses belajar mengajar. Tujuan utamanya adalah agar setelah mereka kembali ke sekolah mereka mampu mengamalkan hal-hal baik yang mereka dapat di tempat mereka bekerja. Jujur saja saya kagum bila mendengar dan melihat pemimpin yang sangat konsern kepada pengembangan SDM tenaga pendidik. Artinya sang pemimpin memang memiliki keinginan untuk melakukan peningkatan kualitas pendidikan.

Pada dasarnya peningkatan pendidikan bukan saja berkaitan dengan faktor fisik seperti gedung, perlengkapan sekolah, lapangan, laboratorium dan sebagainya. Namun ada hal lebih penting yang harus di perbaiki yaitu mentalitas para tenaga pendidiknya. Proses pendidikan itu adalah transfer ilmu pengetahuan dari guru kepada muridnya, bila dilakukan dengan ikhlas dan dengan niat untuk menjadikan anak didiknya sebagai generasi unggul maka keberhakan ilmu itu akan terjadi. Namun bila proses pendidikan hanya dianggap sebagai kegiatan formalitas untuk mencari uang dan hal duniawi lainnya tanpa ada semangat untuk membentuk generasi unggul maka yang tercipta adalah manusia-manusia yang pandai namun tidak memiliki ruh. Hal ini sulit untuk dibuktikan secara fisik karena ini berkaitan dengan keyakinan, fealing dan jiwa.
Kembali lagi pada cerita tentang para guru, jadi mereka didanai oleh anggaran pemerintah provinsi jawa barat (entah itu anggarannya masuk DAK, DAU atau lainnya) namun yang jelas para guru yang menjadi garda terdepan dalam proses pendidikan memiliki kesempatan yang sama dengan para pejabat-pejabat tinggi untu melakukan study banding ke luar negeri.

Uang negara kita ini sebenarnya banyak, namun penyebarannya yang tidak merata karena hanya dikuasai oleh sebagian orang saja menyebabkan orang yang berada pada rantai paling bawah hanya bisa menikmati remah-remah keju, sedangkan keju utuhnya dimakan dengan rakus oleh orang yang berdiri dengan pongah di posisi paling atas rantai kehidupan. Namun itu cerita dulu, sekarang sudah banyak pejabat yang merasa bahwa dari uang-uang tersebut ada hak para pegawai di posisi bawah untuk juga menikmatinya.

Saya berkesempatan mengobrol dengan beberapa guru dan kepala sekolah, paling mudah menebak asal daerah adalah bapak yang bernama usep. Saya langsung menebak “bapak dari Bandung ya?” dan jawaban saya sangat tepat, lalu bapak itu bilang “ih ade pasti lihat name tag saya ya? Emang nama usep mah banyaknya dari Bandung” kalau pun tebakan saya salah, saya akan mencoba garut dan cianjur pada percobaan kedua.

Beranjak pada acara selanjutnya yaitu hiburan-hiburan. Panitia mempersembahkan kepada para tamu penampilan apik dari klub angklung yang membawakan musik sesuai dengan permintaan dari nasabah, eh maksudnya dari penonton. Dan panitia juga menyajikan penari jaipong ke area panggung. Maka kombinasi Angkulng + jaipong + orang sunda menjadikan suasana makin semarak heboh gegap gempita. Saat sang penari sedang beratraksi maka majulah bapak-bapak dengan kopiah yang dimiringkan seperti gaya kabayan, tak lupa uang 5 dollar terselip di tangannya. Dang-dung trak truk. Semua orang tertawa dan bergembira menikmati kemerdekaan di negeri tetangga.

Ini tulisan dah lebih dari 600 kata, dan sepertinya saya dah cape, jadi kita lanjutkan kapan-kapan lalgi ya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s