Paradoks Pemilu 2014 antara Status Quo dan Perubahan

Dari sekian banyak hal menarik yang saya lihat, amati dan rasakan dalam penyelenggaran pemilihan presiden RI tahun 2014 salah satunya adalah isu tentang perubahan dan status quo. Salah satu calon di identikan dengan jargon perubahannya karena mengusung capres segar dan diiringi oleh wajah-wajah segar yang masih relatif hijau dalam perpolitikan Indonesia sehingga beliau-beliau dijuluki sebagai orang yang mempunyai masa lalu bersih dan tak punya hutang sejarah. Satu calon lagi identic dengan status quo atau kemapanan karena orang yang di sekitarnya telah banyak mengenyam dan menghiasi perpolitikan sepuluh tahun terakhir ini.

Tidak bisa di pungkiri bahwa dalam 10 tahun terakhir di bawah kepemimpinan presiden Susilo Bambang Yudhoyono Indonesia melaju dengan kencang, Pendapatan per-kapita yang naik hampir empat kali lipat, PDB nasional yang juga naik dengan pengali yang hampir sama serta pertumbuhan ekonomi yang hampir selalu di atas 5% tiap tahunnya. Maka tidak heran bila jumlah kelas menengah terus tumbuh dengan pesatnya.

Namun di sisi lain, pertumbuhan ekonomi yang tinggi tersebut tidak diiringi dengan pemerataan, hal tersebut dapat dilihat dari nilai Gini yang terus membesar tiap tahunnya. Kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin semakin melebar, yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin.
Di sinilah menurut saya sisi menariknya, bila melihat kondisi di atas seharusnya kelas menengah yang mendapatkan berkah dari kepemimpinan SBY akan mendukung presiden yang gerbongnya berisi status quo, sedangkan kelas bawah yang hidupnya terus tertekan karena terjadinya ketimpangan pertumbuhan akan mendukung presiden yang menawarkan perubahan. Namun realitanya terbalik, kelas menengah merapat pada kubu perubahan, sedangkan kelas bawah merapat pada status quo. Kenapa fenomena ini dapat terjadi?
Saya memprediksi. bila status quo menang, maka pertumbuhan ekonomi kita tetap akan stabil di angka 5-7%, penegakan hukum tidak akan banyak berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, kebebasan pers dan berpendapat akan tetap terjamin seperti tahun-tahun sebelumnya, dan aliran-aliran agama yang meresahkan akan tetap dihambat pergerakan-nya.

Bila gerbong perubahan yang menang, ini yang sulit di prediksi. Bila memiliki kepemimpinan yang kuat didukung dengan penasihat yang mumpuni, bisa jadi pertumbuhan ekonomi kita melaju pesat di atas 7%, pers, kebebasan berpendapat dan aliran-aliran agama akan tumbuh subur karena diberi kesempatan yang sama oleh pemerintah. Namun di sisi lain, bila tidak mampu mengelola dengan baik maka yang terjadi adalah kerusakan, ekonomi mungkin akan tetap tumbuh namun hanya berkisar antara 2-4 saja, pengangguran bertambah, hutang terus meningkat dan berimbas pada kritik dari rakyat yang makin tajam dari lalu diikuti dengan pembredelan, pengekangan dan sebagainya.

kembali pada awal pembahasan di atas, kenapa terjadi paradox pilihan pada pemilu kali ini, apa sebenarnya yang terjadi? Fenomena apakah yang sedang berlangsung. Mungkin rekan semua ada yang mau menjawabnya..?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s