Revitalisasi Perkebunan Jengkol dan Petai

Hari ini saya cukup terkejut saat mengetahui harga tiga tangkai petai yang mencapai Rp 10.000,- keter-kejutan saya lalu bertambah saat istri saya berkata “Saat mendekati lebaran, 1 tangkai bisa Rp 10.000”.. wow, luar biasa mahal-nya, lebih mahal dari 1 buah risoles daging asap mayones langganan saya. Lebih mahal dari harga seperempat kilo cabe.. Dunia sudah gila…..!!!!

Selain itu beberapa bulan yang lalu, saya pernah mendengar bahwa harga se-kilo jengkol lebih mahal dibandingkan dengan harga sekilo daging ayam. Bagaimana logikanya bila satu kilo jengkol mencapai harga Rp.50.000,-

Tidak bisa di pungkiri kedua jenis komoditas tersebut memiliki tempat yang khusus di hati para pencintanya, walaupun aroma semerbak mewangi yang dihasilkan dari komoditas tersebut, namun rasanya aduhai membuat orang-orang tidak bisa lepas untuk mengkonsumsi-nya pada hari-hari spesial. Semisal-kan acara arisan, acara keluarga di rumah dan hari besar keagamaan.

Rasanya kurang sedap saat memakan sambal balado bila tidak menggigit hijau-nya pete, atau saat memakan sambal godok namun tidak dapat mencium aroma semerbak petai, dan hambar rasanya saat ada sambal pedas di depan mata disertai nasi hangat namun tidak ada jengkol sebagai pembangkit selera. Karena hal itu lah maka jengkol dan petai menjadi komoditas yang diburu oleh banyak orang.

Disisi lain, supply petai dan jengkol sedikit terhambat dikarenakan beberapa hal. Satu masalah utama yang saya amati adalah berkurangnya populasi pohon petai dan jengkol di dunia ini karena berganti dengan tanaman lainnya. Banyak pohon produktif yang ditebang untuk diambil kayunya namun di sisi lain orang malas untuk menanam pohon baru karena membutuhkan waktu yang lama hingga pohon tersebut dapat menghasilkan buah.

Menurut saya, alih guna lahan dari tanaman petai dan jengkol menjadi komoditas lainnya perlu segera dihentikan. Bahkan pemerintah perlu ikut campur tangan untuk menyelesaikan masalah ini. Penelitian untuk mendapatkan bibit petai dan jengkol yang unggul harus segera digalakkan, penyediaan lahan khusus untuk perkebunan petai dan jengkol harus segera menjadi prioritas.

Jangan sampai, lima sampai sepuluh tahun ke depan populasi pohon petai dan jengkol semakin turun lalu menyebabkan harganya melonjak tinggi, bahkan yang dikhawatirkan adalah bila kelak anak cucu kita tidak lagi dapat menikmati cita rasa jengkol dan petai yang luar biasa karena sudah tidak ada lagi pohon yang menghasilkan petai dan jengkol..

Sungguh, kita akan berdosa besar bagi keturunan kita…. Oleh karena itu, saya mewakili masyarakat pencinta petai dan jengkol, mengimbau kepada pihak-pihak terkait untuk segera menyelesaikan permasalahan ini. Sehingga ke depannya harga petai dan jengkol dapat kembali turun dan ketersediaan-nya dapat di jangkau dengan mudah..

Selamat sore semua…

salam perpetaia….

Karim Abdullah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s