Resensi buku “Dilan , dia adalah Dilanku tahun 1990”

Satu lagi buku yang harus dimiliki oleh para fans setia Bang Pidi Baiq sang Imam Besar The Panas Dalam. Bila biasanya dia menulis buku yang berisi kumpulan cerita pendek tentang kehidupan sehari-harinya, berbeda kali ini karena buku yang berjudul “Dilan, dia adalah Dilanku tahun 1990” bercerita tentang sosok lain (bukan makhluk lain ya, karena nanti maknanya bisa kemana-mana). Meskipun begitu, saya rasa karakter Dilan tidak jauh berbeda dengan penulisnya karena sifatnya yang humoris, penyayang, setia kawan, dan tentu saja pecinta sejati.

Kisah ini bercerita tentang Milea seorang gadis remaja yang lama tinggal di Jakarta namun harus pindah ke Bandung karena mengikuti orang tuanya yang berdinas disana. Suasana Bandung pada tahun 1990an di deskripsikan dengan sangat luar biasa oleh bang Pidi sehingga pembaca bisa membayangkan betapa indahnya Bandung pada saat itu. Orang yang tinggal atau pernah mencicipi bermukim di Bandung masa kini akan merasakan romantisme yang menggelora saat membayangkan bahwa bandung 20 tahun yang lalu adalah tempat yang sangat indah, nyaman dan menakjubkan. Maka pantaslah bila Bandung dijuluki dengan Paris Van Java.
Cerita ini dimulai dengan pertemuan Dilan dan Milea disuatu pagi saat mereka bersama-sama akan berangkat menuju sekolah. Milea sebagai siswa baru yang belum memiliki banyak teman mersa heran karena tiba-tiba saja datang sesosok anak muda yang menghampiri dirinya dan langsung berkata “boleh gak aku ramal?” “Aku ramal, nanti kita akan bertemu di kantin”. Pria yang sangat pemberani, humoris dan langsung pada pokok masalah. Menurut saya ini adalah contoh sifat pria yang harus dimiliki oleh anak muda masa kini.

Cerita berlanjut dengan pertemuan-pertemuan berikutnya antara Dilan dan Milea, bagaimana cara Dilan menarik hati Milea dengan hal-hal yang out of the box. Sangat kreatif, imajinatif dan tentu saja menyenangkan bagi orang yang didekatinya. Bayangkan saja, saat Milea berulang tahun, Dilan menghadiai TTS. Namun bukan sembarang TTS, tapi TTS yang sudah diisi, lalu diselipkan sepucuk surat di dalamnya yang berisi “Selamat ulang tahun, Milea. Ini hadiah untukmu, Cuma TTS. Tapi sudah kuisi semua. Akus sayang kamu, Aku tidak mau kamu pusing karena harus mengisinya, Dilan!” hadiah yang sangat ajaib dan berhasil membuat Milea tertawa dan berkata “Keren! Aku senang!” Banyak lagi hal-hal ajaib yang dilakukan Dilan untuk menarik hati Milea. Saking banyaknya, jadi sulit di ungkapkan diresensi singkat ini. Bila anda ingin mengetahuinya lebih lanjut, maka wajib membeli buku ini.

Buku ini bisa dijadikan resensi bagi para remaja untuk mendekati gebetannya, dan bagi yang sudah memiliki pasangan, dapat dijadikan panduan bagaimana cara menghibur kekasih melalui cara yang berbeda. Namun anda juga harus hati-hati bila buku ini dibaca oleh pasangan anda, karena setelah membaca buku ini istri saya berkata “Aduh, jadi pingin punya suami kaya Dilan”, Bahaya banget tuh!!. Oh ya, Buku ini juga cocok bagi anda-anda yang kangen dengan suasana Bandung, karena buku ini sangat Bandung banget.

Jadi, tunggu apa lagi… Segera datangi toko buku terdekat, beli yang asli biar cepet abis terus nanti naik cetak lagi deh. Kalau makin banyak dicetak kan penerbit bakal seneng, terus nanti bakal ngejar-ngejar Ayah Pidi buat bikin buku lanjutannya, hehehehee…….

Gambar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s