Kapasitas Terpasang

Beberapa hari yg lalu, saya membeli salah satu makanan favorit saya yaitu pizza. Saat sedang menunggu pesanan, saya amati cara kerja pegawai dalam membuat makanan tersebut. Dapurnya sengaja dibuat transparan sehingga pengunjung dapat melihat proses membuat makanan tersebut.

Salah satu hal yang menarik adalah pada bagian oven. Jadi bentuknya sedikit berbeda dengan oven biasanya, terdiri dari 2 tingkat namun tanpa pintu di depan dan dibelakang. Adonan yang akan dipanggang dimasukkan ke bagian belakang, lalu perlahan dia masuk ke dalam oven dengan bantuan alas berjalan, dalam 8 menit dia akan sampai di bagian depan oven dengan kondisi yg sudah matang. Lalu dimasukkan ke dalam kotaknya dan Pizza siap untuk didistribusikan.

Saya tidak akan membahas cara kerja oven tersebut, yg ingin saya sampaikan adalah : kapasitas produksi pizza setara dengan kemampuan oven untuk memanggang dalam jangka waktu 8 menit. Misalkan dalam 8 menit dia mampu menampung 50 pizza, maka dalam 1jam dia mampu membuat 350 Pizza, dalam 1 hari sekitar 3500 pizza (ini disebut dengan kapasitas terpasang).

Jadi, perusahaan tersebut sudah menyiapkan restauran nya untuk mendapatkan omzet sekitar 150jt perhari/kedai. Angka yg sangat fantastis. Agar kapasitas tersebut dapat berjalan secara optimal, maka mereka menyediakan “delivery service” Saya tidak tahu berapa kapasitas efektifnya. Saya rasa bila pun hanya 50% nya, perusahaan tersebut sudah untung besar.

Ada kasus lain, Salah satu makanan yg sedang trend di Bogor, Menjadi oleh-oleh kebanggan kota Bogor dalam 2 tahun terakhir,  kapasitas produksinya terus meningkat, saat ini mampu membuat 8000 kue dalam 24 jam (3 shift), dan dia berencana untuk memperbesar rumah produksinya agar mampu membuat lebih banyak. Dalam kasus ini artinya adalah kapasitas efektif dia hampir setara dengan kapasitas terpasang.

Apa yang ingin saya sampaikan adalah saat kita akan membuat suatu unit usaha, kapasitas produksi harus sesuai dengan perkiraan target market. Karena akan berkorelasi pada pemilihan alat produksi. Namun disisi lain, pada saat produksi awal, sebaiknya cukuplah membeli alat-alat dengan kapasitas kecil terlebih dahulu untuk mengetes dan mengembangkan pasar (Market development), lalu setelah terlihat bahwa produk kita dapat diterima oleh pasar, maka segeralah berinvestasi untuk membeli mesin sesuai dengan prediksi jumlah target market kita. Dengan menggunakan strategi ini dapat menghemat waktu dan biaya investasi.  

Salah satu contoh kesalahan dalam pengembangan kapasitas produksi terjadi pada Bandara Soekarno Hatta. Satu sisi pasar penerbangan sangat besar, namun kapasitas hanya disiapkan untuk pengembangan sebesar 2 x nya. (awalnya 30juta/tahun, dikembangkan menjadi 60jt/tahun), padahal saat ini jumlah pengguna sudah mencapai lebih dari 50jt/tahun. Artinya setelah pembangunan kapasitas baru selesai, perusahaan harus kembali melakukan pengembangan kapasitas. Seharusnya, dari awal Bandara soekarno hatta mengembangkan sebesar 3x lipat (90jt/tahun).

Ada juga kesalahan berupa over confident, terlalu percaya diri. Pasar dia masih stagnan, belum terlihat perkembangan namun sudah berinvestasi tambahan untuk meningkatkan kapasitas produksi. Hal ini mengakibatkan besarnya kapasitas idle (kapasitas tidak terpakai). Tentu saja bila tidak segera diatasi, kerugian tinggal menunggu waktu karena biaya perawatan yg amat besar tidak sebanding dengan omzet.

Selamat pagi semua.
selamat berakhir pekan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s