Penyediaan Listrik dan Politik

Saya membaca sebuah “kul twitt” yg memprotes tentang pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Geothermal di Ciremai. Banyak hal menarik dari protes tersebut, namun saya hanya akan mengutarakan beberapa hal yang mengganjal pikiran saya:

Penyediaan energi listrik di Indoensia mengalami dilema yang sangat berat, satu sisi tuntutan masyarakat yang tinggi kepada pemerintah cc PLN untuk menyediakan listrik bagi seluruh rakyat, namun disisi lain, Rakyat protes terhadap pembangunan pembangkit listrik.

Sebagai contoh adalah di Sumatera Utara yg saat ini krisis listrik, untuk menyediakan pembangkit sekala besar tentu membutuhkan waktu yg relatif lama, maka PLN berinisiatif untuk menyediakan listrik melalui PLTD (disel) dengan kapasitas kira2 40 MW, namun apa yg terjadi? masyarakat menolak dengan alasan bising.

Saya juga mendengar ada beberapa PLTU yang pembangunannya terhambat karena protes dari masyarakat yg khwatir akan dampak negatif dari berdirinya pembangkit tersebut, padahal bila PLTU tersebut berdiri maka dia akan mampu menyediakan listrik untuk hampir 200ribu rumah tangga.

Belum lagi kasus dahlan iskan yang menyewa genset agar tidak ada pemadaman (saat itu proses pembangunan beberapa PLTU baru sedang berlangsung, namun kebutuhan listrik terus meningkat), kebijakan yg akhirnya membuat jebol negara hingga 31 T karena harus menggunakan solar sebagai bahan bakunya. Bila dahlan tidak menggunakan PLTD, akan banyak pemadam, namun menggunakan PLTD, dia dituduh korupsi. Buah simalakama.

Kembali ke topik masalah gheotermal. dalam presepsi saya Ini adalah salah satu pembangkit listrik dengan sumber energi yang terbarukan dan tentu saja ramah lingkungan (dibandingkan dengan pembangit jenis lain). Saat zaman kuliah, banyak sekali pembahasan ttg ini, dan pada saat itu banyak pakar yg berkata “kenapa kita tidak memanfaatkan gheotermal ini?, seingat saya bahkan ada pakar yg berkata “kenapa sih pembangunan pembangkit gheotermal ini terhambat? pemerintah serius tidak dalam menyediakan listrik?,” kira-kira begitulah narasinya, sy lupa siapa pakarnya, karena ini sudah hampir 7 tahun yg lampau.

Ternyata sekarang sudah banyak juga pembangkit listrik tenaga gheotremal yg beroperasi diIndonesaia, selain kamojang, ada juga di lampung, lahendong, sibayak. Sebagai operator ada chevron dan juga pertamina.

Lalu pertanyaannya saya adalah : kenapa saat mau memanen panas bumi yg ada diciremai, tiba-tiba ada yg protes? siapakah dia? apakah kepentingan dia? kenapa dia protes?

Dari sisi teknis, kultwit orang tersebut banyak ngaurnya? petir dari arah gunung, membangkitkan gunung yg tertidur, gas-beracun dsb. Kayanya dia belum pernah ke Kamojang? Kebetulan saya sudah pernah ke sana, PLTGheotermal selain jadi pembangkti listrik, juga menjadi objek wisata.

Saya berpendapat, ada masalah non teknis dibelakang penolakan ini. Silahkan anda mereka-rekanya..

Selamat pagi semua, selamat beraktivitas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s