Kepemimpinan

Kadang kala dalam menjalankan rutinitas sebagai pegawai kita menganggap bahwa pandangan kita lah yang betul, sedangkan pimpinan yang salah. Atau kita merasa bahwa kita telah melakukan sesuatu dengan benar, tapi kenapa pimpinan tetap menyalahkan kita. Atau kadang kala kita juga merasa bahwa apa sih maunya pimpinan, memberikan perintah-perintah yang “absurd” sehingga kita melakukan pekerjaan tersebut dengan setengah kata. Dan juga banyak hal-hal negatif kita terhadap pimpinan bila perintah yg dia berikan tidak cocok dengan ide kita.

Menyikapi hal tersebut, Guru saya beberapa kali memberikan nasihat kepada saya “Kadang kita mengeluhkan hal tersebut karena sudut pandang kita yang pendek, kita melihat masalah dari sudut pandang kita sendiri, beda hal nya dengan pemimpin yang bisa jadi dia melihat masalah secara lebih menyeluruh. Saya menganalogikannya dengan menggunakan kaca pembesar. Saat kita melihat suatu masalah (anggap masalah tersebut adalah selembar kertas A4), mungkin kaca pembesar kita hanya difokuskan pada satu sudut bawah, atau atas, atau hanya tengah saja, karena kita hanya mempunyai kaca pembesar yg kecil. Beda hal nya dengan pemimpin, yg bisa jadi dia memiliki kaca pembesar yg lebih besar sehingga dapat melihat setiap sudut kertas (masalah) dalam satu pandangan”

Lalu guru saya itu melanjutkan, ukuran kaca pembesar itu menjelaskan tentang pengalaman dan pengetahuan dari yg memegangnya. Semakin lama pengalaman yg dia miliki, maka akan semakin besar lah kaca pembesar yg dia punya. Jadi solusi-solusi yg dia berikan bukan hanya untuk menyelesaikan satu masalah, tapi untuk merapihkan semua problem yang ada. Sedangkan sudut pandang kita yg kecil menganggap bahwa yg perlu diselesaikan adalah hanya bagian kita saja.

Sehingga dalam suatu organisasi yg besar, kita harus pandai menempatkan posisi kita, apakah sebagai anak buah, atau pemimpin. Saat pimpinan memberi kita perintah yg menurut kita itu tidak tepat, tetap laksanakan karena mungkin saja pimpinan memang mempungai strategi lain *ya tentu saja selama perintah pimpinan itu tidak melanggar peraturan negara ataupun agama.

Untuk lebih memahami tentang kepemimpinan ini, coba lihat prajurit-prajurit yg bertahan di garis depan medan pertempuran selama berbulan-bulan, mereka tidak tahu apa maksud dari sang jendral menyuruh mereka tiarap di bawah dentuman meriam dan desing peluru. Namun di kantor pusat sana, sang jendral telah menyiapkan serangan kejutan yang akan langsung menusuk ke jantung pertahanan musuh.

ini dari status saya ini adalah bila anda hanya sekedar prajurit, seberapa tinggi pun pendidikan anda, maka posisikan lah diri sebagai prajurit, namun terus kembangkan pengetahuan dan pengalaman anda, dan tunggu saat bola berputar dan anda menjadi pemimpin. Saat itu bersikaplah sebagai pemimpin, jangan lagi bermental prajurit

*oh ya, biar ga salah presepsi… Bukan berarti kita tidak boleh memberi masukan pada pemimpin, ada ruang diskusi antara perintah dgn menjalankan perintah. tapi bila diskusi telah selesai, dan pemimpin telah memberikan perintahnya, ya berarti sebagai prajurit kita harus melaksanakan perintah tersebut, suka atau tidak suka..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s