Entrepreuneur, dan Realitanya

Jadi.. Beberapa bulan terakhir ini saya sedang belajar tentang Entrepreunership. Jadi intinya adalah Nanti setelah saya lulus kuliah, saya bisa membina masyarakat untuk berwirausaha dan membesarkan usaha mereka tersebut. Lebih bagus bila mereka mampu berkembang dari sekedar IKM menjadi Industri besar yg mampu menyerap tenaga kerja yang banyak dan menambah pendapatan asli daerah. Itu sih yg saya pahami dari kurikulum kuliah yg saya jalani saat ini, entah betul entah salah.

Ada banyak hal yang menarik yg saya dapat dari kuliah ini, dan setelah merenung lama, akhirnya jadilah status ini:

Pada dasarnya, kewajiban negara lah untuk menciptakan lapangan pekerjaan bagi seluruh rakyatnya, bukan masyarakat yg harus berfikir bagaimana caranya membuka lapangan pekerjaan baru. Pada kondisi ideal, pemerintah harus memetakan secara cermat lokasi-lokasi yg akan dibangun pada suatu kota, Tempat tinggal, komplek pendidikan, industri, pengolahan limbah, perkantoran, perdagangan, wisata dsb. Lalu masyarakat dipersilahkan untuk mengisi bagian2 tersebut sesuai dengan kompetensi yg mereka miliki. Bila hal ini terjadi, maka ketertiban dan kenyamanan kota akan menjadi kenyataan. Transportasi massal dapat dibangun dengan baik, sistem pengangkutan sampah dapat berjalan, tingkat stress dijalan dapat dikurangi. Ini adalah Ideal.

Namun pada kenyataanya, pemerintah tidak mampu merealisasikan road map yg dia punya *atau jangan-jangan memang tidak punya. Sehingga masing-masing orang berusaha untuk bertahan hidup masing masing. Maka dibangunlah toko2 di komplek perumahan, sekolah dekat dengan perkantoran, industri berada dipusat kota, warung-warung kecil disetiap sudut kota, angkutan umum ga jelas arahnya. dsb. Masing-masing orang berusaha untuk “berwirausaha” dengan kompetensinya masing-masing.

Hasilnya adalah saat ini, kota-kota besar menjadi kota yg tidak nyaman untuk ditinggali. Kapasitasnya sudah melebihi dari daya dukungnya. Kemacetan, banjir, kriminal dan hal-hal buruk lainnya dapat mudah terjadi. Kota menjadi sakit, dan begitu pun juga masyarakatnya.

Ada 2 hal menarik yg ingin saya tekankan pada status saya kali ini: (1). wirausaha dinegara kita kebanyakan adalah skala kecil yang hanya bertujuan untuk bertahan hidup, tukang baso, pecel lele, tambal ban, toko klontongan, service motor, jajanan anak2, PKL dsb. Mereka mengisi sudut2 kota menjadikan wajah kota menjadi tidak beraturan. Mereka adalah pahlawan bagi keluarganya, Namun seharusnya mereka tidak ada. Harusnya mereka2 itu bekerja pada sektor formal, sehingga kota menjadi tertata dan rapih. Namun, karena pemerintah tidak mampu memberikan pekerjaan yg layak bagi mereka, akhirnya mereka berjuang dgn caranya sendiri. Yg saya dengar, hampir 40 juta jenis usaha seperti ini. banyak banget pan.

(2) inilah yang menarik, karena ekonomi kita berbasis dari wirausaha kecil dgn perputaran uang yg sedikit, ekonomi kita dapat bertahan walaupun dihajar dengan krisis dunia. Karena logika sederhana ekonomi adalah, selama ada perputaran uang maka selama itu pula perekonomian akan jalan. Berbeda dgn sektor formal yg bila terjadi krisis mereka tidak mampu menyediakan uang cash sehingga tidak ada perputaran uang dan berimbas pada kebangkrutan.

Jadi inti dari tulisan ini adalah, entrepreuner/wirausaha kecil yang jumlahnya berjamur itu adalah bentuk kegagalan pemerintah dalam menyediakan lapangan pekerjaan bagi masyarakatnya, namun ternyata kegagalan tersebut berimbas positive manakala terjadi krisis. Memang sebuah paradoks…

selamat siang semua, lieur mah lieur aing

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s