CPO untuk Biodisel

Setiap tahunnya Indonesia mengimpor lebih dari 35 juta kilo liter Solar atau senilai 35 milyar dollar, ditambah lagi sekitar 18 juta kilo liter premium yang setara dengan 18 Milyar dollar. Maka tidak mengherankan jika neraca perdagangan kita sering mengalami defisit dibandingkan dengan surplus.

Neraca perdagangan kita tertolong oleh komoditi kelapa sawit (CPO) yang selalu mengalami peningkatan jumlah yg diekspor dan juga harga jual yang relatif stabil. Pada tahun 2012 ekspor mencapai volume 20,57 juta ton (minyak sawit/CPO dan minyak sawit lainnya) dengan nilai US $19,35 milyar.

Salah satu program pemerintah untuk mengurangi impor BBM adalah dengan meningkatkan campurkan biodisel dalam solar dari 5% menjadi 10% pada tahun 2014, dan akan terus meningkat menjadi 25% pada tahun 2025, seperti yang tercantum dalam peraturan menteri ESDM no 25 tahun 2013. Bila program ini berjalan dengan baik maka setidaknya kita mampu mengurangi jumlah impor solar sebanyak 3,5 juta kilo liter (3,5 Milyar dollar).

Yang menarik adalah, bila konsumsi CPO dalam negeri meningkat (untuk diolah menjadi biodisel), maka nilai ekspor CPO pun akan turun, dan pada akhirnya neraca perdagangan akan kembali pada posisi semula (akan berubah namun tidak signifikan).

Namun bila dilihat dari sisi lain, peningkatan penggunaan biodisel dalam negeri dapat menyelamatkan perkebunan dan industri hulu CPO di Indonesia, terutama setelah dikeluarkannya kebijakan Uni Eropa (UE) untuk membatasi penggunaan biodisel dan biofuel di wilayah mereka. Belum lagi serangan dari berbagai macam LSM yang mengatakan bahwa CPO kita merusak lingkungan, menggusur penduduk asli, merusak habitat satwa asli dan juga isu kesehatan. 

Sehingga kebijakan pencampuran solar dengan biodisel sudah tepat, yang menjadi tantangan saat ini adalah bagaimana caranya distribusi biodisel dapat merata terutama ke wilayah Timur Indonesia. Walaupun saat ini kapasitas terpasang mencapai 5 juta kilo liter, namun hanya terfokus di wilayah barat Indonesia, sehingga kedepannya perlu dikembangkan unit-unit baru yang melayani TImur Indonesia.

*Note

Untuk memproduksi 5 juta kiloliter Biodisel, kita membutuhkan luas lahan sebesar 1 juta hektar, kira-kira 1/3 luas wilayah jawa barat, atau sekitar 8,5 x luas wilayah DKI jakarta. Bandingkan dengan produksi solar yang hanya membutuhkan luas wilayah eksplorasi yang relatif lebih kecil namun dengan kapasitas produksi yang lebih besar. 

Jadi pada akhirnya, meskipun kita mempunyai sumber daya energi terbarukan, namun lebih bijak bila memanfaatkan energi sesuai dengan peruntukannya (berhemat)

Selamat malam, selamat malam minggu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s