PNS vs Corporat

Dalam sebuah diskusi ringan sesama pegawai negeri sipil, obrolan tanpa ditemani kopi dan roko, terbesitlah sebuah pertanyaan dari seorang yang dituakan kita sebut saja Buya.

Buya : “kenapa di Indonesia PNS itu dianggap jahat, korup, dan culas?” 
A : Karena PNS banyak yang terkena kasus korupsi, dipenjara, pemalas, ngurus izin nya lama, harus disuap dulu biar kerja.
Buya : Iya, sepertinya kamu betul. Namun, tahukah kamu, sejahat-jahatnya PNS, dia tidak akan lebih jahat dibandingkan dengan Corporat/swasta (yang jahat)?

B : Maksud Buya apa? 
Buya : Bila PNS korup, paling yang dia makan hanyalah uang di depan mata. Namun bila corporat/swasta yang jahat, maka semua yg dia inginkan harus terpenuhi bahkan dia akan menghalalkan hal-hal yang kejam untuk menggapai yang dia inginkan?
C : Aku belum mengerti buya
Buya : kalau PNS, dia korup, misal petugas kelurahan, paling dia minta duit 5000 dari yg mengurus KTP, kalau panitia pengadaan, dia ngambil 10-30% dari pagu anggaran. Nah kalau swasta jahat, dia bisa menggerakan orang-orang untuk mengangkat senjata agar keinginan corporat terpenuhi?

D: mohon penjelasan lebih detail wahai Buya?
Buya : kita ambil contoh di Afrika sana, perang yg terjadi di usahakan berlarut-larut agar corporat bisa terus menambang harta karun yang ada, coba lihat timur tengah, milisi-milisi tetap dipelihara agar urusan minyak tetap lancar, belum lagi dengan adanya konflik maka produsen senjata dapat menjual produknya. Kita pun dulu pernah di jajah ratusan tahun, bukan oleh Negara namun oleh corporat, mereka ingin memonopoli perdagangan rempah-rempah. 
E : tapi kan buya, mereka melakukan dengan fair, tidak seperti PNS yang meminta suap, jelas PNS itu jahat buya?
Buya : Kamu memang sangat polos, itu lah hebatnya corporat-corporat jahat. Dia akan berkolaborasi dengan politisi untuk mengapai tujuannya. Rumusnya adalah, bila PNS itu mau mengikuti cara mereka, maka PNS akan aman, namun bila PNS tersebut menolak, maka dengan tangan yang mereka punya, PNS tersebut dapat diganti dengan orang yang akan menurut dengan keinginan korporat. Jadi pilihan sang PNS hanya dua, ikuti jalan yang ada atau tersisih?

F : Lalu buya?
Buya : Kamu lihat hutan-hutan yang dibakar yang beralih fungsi, itu mengusir penduduk asli dan binatang2 yang tinggal disana? kamu lihat sungai-sungai yang makin tercemar? kamu lihat konversi lahan pertanian menjadi sentra-sentra Industri? siapa itu yang melakukannya? PNS kah? atau korporat? namun, itulah yang menyedihkan dari negeri Ini, korporat dipuja-puja, PNS dihina-hina. Saat terjadi kasus suap, PNS dan pejabat pemerintah mendapatkan hukuman yang lebih besar, padahal ada asap pastilah ada api. korporat dapat melenggang dengan tenangnya, klo PNS di penjara 10 tahun, penyuap paling 2-3 tahun. Mereka kaya dan makin kaya, mengemplang pajak, menyuap pejabat. Saat untungnya sedikit, buruh-buruh mereka pecat, lalu lari membawa keuntungannya. menyisakan masalah bagi pemerintah. Mereka tarik dana dari rakyat, mereka pergunakan uang itu seenak mereka, bila mereka mengalami kerugian, pemerintah juga yang disuruh menggantinya.

G : wah buya, jadi apa yang harus kita lakukan?
Buya : Banyak-banyak lah kalian berdo’a, semoga kalian tidak akan berhadapan dengan korporat-korporat seperti model itu. Perkuat iman kalian, lakukan pembinaan kepada mereka untuk berbisnis sesuai dengan etika yang ada. Cukuplah untuk sekedar membayar gaji karyawan dan sedikit tambahan membeli rumah baru. TIdak perlu lah corporat-corporat itu terlalu rakus, karena toh sebanyak-banyak nya harta yang dikumpulkan, pada akhirnya hanya selembar kain kafan yang dibawa ke hariban.

H : tapi buya, ga semua korporat seperti itu kan?
Buya : betul anakku, tidak semuanya seperti itu, mungkin mereka hanya 5-10 persen. Namun perusahaan yang seperti itu menguasai hampir 70% perputaran uang yang ada. Seperti yg buya katakan, mereka kaya dan semakin kaya. Sedangkan yang tidak kuat bertahan akan mati terinjak-injak. Korporat-korporat culas itu lah yang berbahaya. Oleh karena itu maka waspadai yang semacam itu.

A, B, C, D, E, F, G dan semua hadirin : baik buya, terima kasih atas wejangannya. Kami sekarang sadar bahwa kami ini memikul tugas mulia menjaga tanah air dari corporat-corporat jahat yang ingin mengeruk harta kekayaan kita dengan semena-mena. Kami akan berusaha menjaga alam agar anak cucu kami dapat menikmati indahnya alam Indonesia ini. Do’akan kami agar menjadi Pegawai Negeri yang mencintai dan dicintai negeri ini.

H : Ngomong-ngomong buya, ko mulut buya berbusa ya? kebanyakan ngomong bukan?

Buya : waduh, buya lupa lagi, tadi pagi harusnya nyeduh kopi pake krim, tapi kayanya tadi salah masukin lagi, kayanya tadi nambahin detergen ke kopi saya.. tapi ga apa-apa lah.. Manis soalnya.

Selamat malam.. Selamat beristirahat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s