Sang Pengemis

Suatu ketika, ada seorang pengemis yang tidah mempunyai tempat tinggal. Dia tidur beralaskan bumi dan beratapakan langit. Bila Hujan turun dia akan berteduh di bawah jembatan penyebrangan. Untuk menghangatkan badan, digunakannya kardus bekas sebagai selimut.

Dalam sehari dia hanya mendapatkan uang hanya cukup untuk membeli 3 porsi nasi untuk dirinya, jangankan untuk menabung, untuk membeli satu batang rokok pun dia harus mengorbankan satu potong goreng tempe pada saat makan siangnya.

Penghidupan dia jauh dari bayangan orang-orang kota yang sering menyebut kaum pengemis sebagai orang pemalas, tidak mau bekerja keras namun penghasilan besar. Bahkan sampai ada orang yang berhitung tentang pendapatan yang dapat dia peroleh tiap harinya, hitungan yang sangat fantastis namun itu hanya hitungan di atas kertas karena pada kenyataannya sang pengemis tetap miskin.

Bukan tidak mau dia bekerja, namun ladang dan sawah sudah tidak ada karena berganti menjadi pabrik-pabrik yang berdiri dengan pongahnya mengeluarkan asap pekat dan air bau yang mencemari tanahnya. Mencoba bertahan dikampung sama saja dengan memberikan leher untuk ditebas. Perut lapar sudah tidak dapat ditahan, mencuri takut lah dia pada dosa, akhirnya merantau ke kota lah pilihannya.

Hidup di kota sangat keras, apalagi bagi orang tak berkemampuan seperti dia, belum lagi tubuh yang sudah tua renta tidak lagi memiliki cukup tenaga. Menjadi kuli angkut hancurlah badan, menjadi juru parkir tak mampu membayar setoran, mengamen tak merdulah suara. Maka satu-satunya fikiran yang waras adalah meminta-minta. Itulah pekerjaannya hingga sekarang.

Satu dua mobil mewah dilewatinya, tak ada uluran tangan bergenggam uang logam yang menghampiri, yang ada hanya suara klakson yang semakin kencang seolah semua orang sudah tuli. tiga empat mobil kembali dijajaki, namun tetap tak ada yang berbaik hati. Lampu merah pun berganti kuning, artinya dia harus bergegas ke tepi sebelum terlindas mobil yang dikendalikan orang-orang dengan berbagai macam keperluan.

Peluh menetas didahi, isi kantong belum banyak terisi, haus sudah menghinggapi, namun dia harus tetap beridiri menunggu lampu merah kembali, kali saja ada orang berbaik budi melemparkan logam uang lalu dia akan mengucapkan terima kasih.

Jam menunnjukan pukul sembilan, dilihatnya hasil perolehan pagi ini, hanya cukup untuk membeli sebungkus nasi ditambah teri. Bergegas dia menjauhi jalan, mencari warung tempat makan, dipesannya seporsi makan seperti yang sudah dia harapkan. Malu bila duduk di kursi, maka dia minta nasi tuk dibungkus, agar dia bisa segera pergi. Uang logam itu pun berpindah tangan, diucapkan kata terima kasih namun senyum kecut sebagai balasan.

Dicarinya tempat yang sepi untuk menikmati sarapan pagi, walaupun matahari sudah tinggi namun lapar harus diusir pergi. Seteguk air dari plastik sebagai pembuka untuk melegakan dahaga. Sesuap demi suap, akhirnya jilatan terakhir terasa sangat nikmat. Dinikmatinya angin sepoi-sepoi, sesuatu anugrah yang dapat diperoleh secara gratis.

Jalan kembali ramai, tandanya anak sekolah sudah pulang. Kembali dia turun ke jalan, mengharap ada orang yang melemparkan uang sekedar untuk membeli makan. Kali ini dia berdiri, dari siang hingga sore, cukuplah untuk makan malam dan segelas kopi sebagai teman.

Ah, itulah nasib pengemis di Ibu kota, bekerja seharian hanya cukup untuk makan sendiri, tidak seperti hitung-hitungan para sarjana, yang menganggap kami berlimpah harta. Mendapatkan uang berlimpah memang menjadi cita-cita, namun entah kapan itu akan menjadi nyata.

Mengemis bukan lah keinginan, namun ini adalah pilihan, pilihan terakhir yang bisa dilakukan dari pada kami mati kelaparan di desa yang semakin gersang.

Bogor, malam hari tgl 20 desember 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s