Belajar dari kegagalan Webvan

Belajar dari Webvan

Sedikit oleh-oleh dari kuliah Business Innovation. Salah satu studi kasus menarik yang dibahas pada kuliah ini adalah kegagalan Webvan, “sebuah perusahan yang menggunakan sistem online untuk menjual barang2 kebutuhan sehari-hari , dengan cita-cita mampu mengalahkan walmart, hypermart dsb. Dengan value bahwa konsumen tidak perlu datang ke toko, cukup telepon maka kebutuhan sehari-hari sudah akan sampai di depan rumah”

Yang menarik dari Kasus Webvan adalah, berapapun besarnya modal yang anda keluarkan, bila anda tidak tahu market yang anda tuju maka kegagalan tinggal masalah waktu. Webvan disuntik dana hingga mencapai 800 jt dollar, setara dengan 9 T rupiah saat ini. Dalam 2 tahun perusahaan ini mengalami kebangkrutan.

Awal berdiri, dengan suntikan dana hingga mencapai 600juta dollar, perusahaan ini membangun infrastruktur untuk bisnisnya, seperti pusat distribusi, call center, kendaraan2 untuk mengirim dan sebagainya. Tidak lupa iklan yang gencer. Dalam waktu 6 bulan pertama, pimpinan perusahaan melihat bahwa perusahaan memiliki prospek yang cerah, lalu dia menandatangani kembali proyek pembangunan infrastruktur berupa pusat2 distribusi dengan nilai mencapai 400juta dollar.

Ternyata ini adalah langkah yang salah, beberapa bulan setelah kontrak tersebut ditandatangai, ternyata jumlah costumer tidak mengalami penambahan alias stagnan. Waktu berjalan, dan ternyata biaya operasional lebih besar daripada jumlah pelanggan. Dan seperti yang saya sebut di awal, perusahaan ini mengalami kebangkrutan.

Costumer yang membeli pada awal perusahaan berdiri ternyata hanya mencoba, bukan sebagai pelanggan setia, hal ini lah yang tidak diperhitungkan oleh perusahaan. Pimpinan terlalu cepat dalam memutuskan sehingga perkembangan perusahaan tidak diikuti dengan pertambahan jumlah pelanggan.

Lalu dosen saya menjelaskan bahwa dalam membangun bisnis, harus membedakan antara perusahaan startup dengan perusahaan yang sudah establish. Untuk yang baru merintis, dapat menggunakan refernsi dari bukunya “steve blank”, bukan Tony BlanK, judul bukunya adalah the Startup owner’s manual”

Inti dari buku ini adalah costumer development, kita harus tahu dulu siapa target pasar kita, seberapa besar mereka, apa problem yang mereka hadapi, apakah produk kita menyelesaikan masalah tersebut, dan pada akhirnya adalah bagaimana agar produk kita dapat masuk ke dalam pasar yang tepat.

Jenis pasar juga akan mempengaruhi tingkat penjulan produk kita, apakah masuk ke dalam pasar yang sudah ada? atau kita masuk ke pasar re-segmented, pasar yang baru atau pasar clone?

Inti dari kuliah ini adalah, jangan samakan antara perusahaan startup dengan perusahaan yang sudah mapan, masing-masing mereka punya teknik yang berbeda untuk mengembangkannya.

Selamat pagi, selamat beraktivitas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s