Impor dan perkembangan ekonomi

Dalam tatanan dunia baru seperti saat ini, batas-batas antara negara sudah semakin semu, transaksi ekonomi lintas negara bahkan benua dapat dilakukan hanya dalam hitungan menit. Namun, apakah hal tersebut menjadi keuntungan bagi Indonesia? atau jangan-jangan malah menjadi kerugian?

Saya sebagai salah satu pegawai Kemenperin, mencoba mengambil sudut dari pengembangan Industri Nasional berkaitan dengan perdagangan International. Untuk memahami hal ini, maka patokan yang dapat kita pakai adalah Neraca Perdagangan. Apakah kita untung atau rugi, bila untung artinya ekspor kita lebih besar dibandingkan dengan Impor dan bila rugi adalah sebaliknya.

Berikut saya sajikan neraca perdagangan nasional.Image

Dari data di atas dapat terlihat bahwa pada tahun 2012 kita mengalami defisit neraca perdagangan, selain karena impor BBM yang sangat tinggi, kita pun tidak mampu meningkatkan nilai ekspor. Andalan ekspor non migas kita adalah bahan mentah meliputi CPO, Karet, Cokelat, dsb.

Salah satu kelemahan Indonesia adalah mengeskpor komoditaas mentah dengan nilai ekonomi yang rendah, namun membeli produk jadi dengan harga yang mahal. Hal ini mengakibatkan pemasukan tidak besar, namun pengeluarkan sangat besar.

Sebagai contoh adalah kita mengekpsor biji mentah, namun mengimpor logam jadi bahkan mesin industri. Nilai tambah akan didapat oleh negara industri sedangkan kita menyisakan tanah yang terkeruk sumber dayanya, dan uangnya habis untuk impor.

Belum lagi kita sangat hobi mengimpor bahan kebutuhan pokok seperti garam, tepung terigu, beras, gula, kedele, bawang, jagung dan sebagainya. Sudah uang kita habis untuk beli barang berteknologi tinggi, habis juga untuk membeli barang remeh temeh seperti itu.

Memang sangat sulit memutus lingkaran yang membelit kita tersebut. Karena banyak sekali pemain yang berkepentingan dan juga political will dari kepala daerah, menteri-menteri dan pejabat lainnya.

Kita ambil contoh target swasembada daging, seteleh perencanaan dan perjalanan selama hampir 4 tahun untuk melakukan swasembada daging, dari mulai penyiapakan lahan, bibit, pakan, lalu tinggal selangkah lagi untuk swasebada, namun masyarakat kita yang dikompori media dan pengusaha, protes karena harga daging melambung dan minta solusi instan. dan akhirnya kran impor pun dibuka kembali dengan bebasnya sehingga para peternak tidak terlindungi. pada akhirnya target swasebda daging pun hanya menjadi angan karena saat ini daging impor telah membanjiri pasar dan petani tidak lagi memiliki gairah untuk beternak dengan sekala industri.

itu sektor peternakan yang relatif tidak memerlukan teknologi tinggi. apalagi bila kita mau masuk dalam bidang teknologi tinggi, sebagai contoh adalah IPTN yang harus timbul tenggelam dalam mempertahankan hidupnya. BUkan karena IPTN tidak mampu membuat kapal yang bagus, namun karena pasar lokal tidak mendukungnya. Dengan berbagai macam alasan yang keluar.

Padahal bila saja pemerintah dan perusahaan penerbangan lokal memesan pesawat kepada IPTN, niscaya akan kebanjiran proyek dan tentu saja akan makin membesarkan IPTN, Devisa negara dapat terselamatkan karena berkurangnya nilai impor. Tapi, siapa yang berfikir ke arah sana? 

Untungnya sekarang IPTN sudah mulai bernafas kembali dengan cara mencari proyek di luar negeri. dan tetap saja sampai saat ini dalam negeri lebih suka bekerja sama dengan boeing dan airbush. padahal, kita kan negara kepualuan yang sebenarnya membutuhkan kapal2 seukuran “gatot koco”

Mungkin contoh yang sedikit berhasil adalah PT Pindad dengan industri senjatanya, dengan dukungan dari TNI “TNI menggunkan senjata dari pindad sebagai salah satu senjata organiknya” maka selalu ada proyek tiap tahunnya untuk menjalankan roda perusahaan, tentu saja ada juga dana untuk melakukan riset. Sekarang sudah banyak karya PT pindad, kendaraan tempur ringan, bahkan sedang melakukan riset untuk membuat kendaraan lapis baja sekelas Tank.

Tidak bisa dipungkiri bahwa industri berteknologi tinggi memerlukan investasi yang sangat besar, baik dalam bentuk uang maupun sumber daya manusia. Tidak bisa tiba-tiba pemerintah membuat pabrik mobil sendiri, lalu menyaingi industri otomotif yang telah dikuasi oleh jepang. Nah salah satu cara untuk mensiasatinya adalah dengan menerapkan program LCGC dari kemenperin. Dalam 5 tahun, diharapkan komponen LCGC berasal dari lokal, sehingga setelah 5 tahun industri komponen akan makin membesar. Namun semangat besar itu tidak bisa dipahami oleh gubernur jakarta yang sedang naek daun, walhasil kemenperin menjadi “samsak” para fans sang gubernur.

Namun disisi lain, sang gubernur ternyata memesan bus untuk transjakarta dari luar negeri, walaupun sudah dihalangi dengan aturan bea masuk sebesar 40%, namun tetap saja lebih memilih cina dari pada membeli dari dalam negeri. Bahkan pak gubernur meminta keringanan agar bea masuk tersebut dihapuskan.

Kembali saya katakan, pak gubernur tidak dapat memahami makna dari bea masuk yang besar tersebut, itu sesungguhnya diterapkan agar pak gubernur lebih memilih industri lokal dibandingkan harus impor, dari negeri cina lagi. Kalau alasannya adalah industri dalam negeri tidak siap, kapan akan siapnya bila ada uang matang yang selalu dibawa keluar. Kapan industri lokal dapat berkembang bila tidak mendapatkan suntikan dana dan proyek? harusnya, bila sesama swasta tidak percaya, pemerintah memberi kepercayaan.

Bila pada awal tahun pak gubernur tercinta sudah menganggarkan untuk membeli 500 bus, masing-masing bus dibudgetkan 1 M, ternyata cina memberi penawaran 700juta sedangkan dalam negeri 900juta, karena bea masuk sebesar 40%, maka harga cina menjadi 980jt lebih besar dari dalam negeri. Maka sudah seharusnya uang tersebut dialokasikan untuk pembelian dalam negeri. jangan malah tetap beli diluar negeri dengan alasan lebih murah, bahkan bilapun harga dalam negeri 1 M, tetap saja lebih untung beli dalam negeri.

Dengan uang 450M yang diputar didalam negeri, akan ada berapa ribu lapangan kerja tersedia, akan berapa banyak pengangguran yang berkurang? ada multiple effect bagi perkembangan ekonomi dalam negeri. berapa banyak anak yang pada akhirnya mampu membeli buku.
Kembali saya katakan, masalahnya bukan pada kita butuh cepat, namun pada mau tidak kita bersabar sesat demi kepentingan yang lebih besar, adakah keinginan untuk mengembangkan industri dalam negeri? siapa yang harus bertanggung jawab? 

Bila kita mampu meningkatkan nilai tambah produk-produk hulu, lalu mengurangi impor produk jadi, niscaya pertumbuhan ekonomi kita akan melejit dengan pesar, bahkan bisa menyentuh 2 digit. Neraca perdagangan akan menjadi surpulus…plus..plus….

Namun pertanyaannya adalah, “kapan itu akan terjadi?”

Wallahualamga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s