Sang petapa

Syahdan…
Disuatu negeri tinggalah seorang petapa yang bijaksana. Semua orang mengakui kehebatan dan keahliannya. Setiap hari sang petapa hanya duduk bersila sambil matanya terus terpejam. Rambutnya putih mengkilat, jenggotnya lebat menjurai hampir menyentuh paha yang sedang bersila, wajahnya sangat damai, membuat orang yang melihatnya menjadi tenang. Dia tinggal disebuh guo yang terletak ditengah hutan, tidak sulit untuk mencapai guo itu karena warga telah menyiapkan jalan yang bagus untuk menuju kesana.

Syahdan…
Walaupun petir menyambar, hujan turun dengan derasnya ataupun sekedar nyanyian burung yang merdu tidak akan mempu membangunkan sang petapa dari ritualnya. Dia akan terus bersila sambil memejamkan mata. Anehnya dia akan terbangun dengan sendirinya saat hari minggu tepat saat matahari berada di atas bumi.

Syahdan…
Ada cara untuk membangunkannya bagi orang yang ingin meminta petunjuk atau nasihat darinya. Namun cara ini hanya dapat dilakukan 3x dalam satu hari, jadi bagi orang yang ingin meminta pendapat dari sang petapa harus bersabar untuk menunggu.

Syahdan…
Cara untuk membangunkanya ternyata cukup sederhana. Masuklah kedalam guo temat sang petapa, lalu duduk bersila didepannya. Saat aliran darah sudah tenang, bisikanlah sebuah mantra sederhana.

“nakfaam ayas gnacnal, anerak ayas nigni kiranem toggnej adna”

Lalu julurkan tangan ada kebawah dahu sang petapa, lalu pelan-pelan sentuhlah jenggotnya, dan bila sudah yakin maka segera genggam jenggot tersebut. Pada kondisi ini sang petapa tidak akan merasakan apa-apa, dia akan masih syahdu dengan dunianya.

Maka mulailah anda membaca mantra tersebut sebanyak 2x secara perlahan-lahan, dan tariklah dengan sedikit menyentak jenggot sang petapa sebanyak sekali…

Lalu anda harus segara duduk bersila kembali, dan meletakkan tangan anda di atas keduabelah paha. tunggu hingga sang petapa menjadi sadar..

Dalam beberapa tarikan nafas, sang petapa akan segera bangun. Lalu akan mengucapkan kalimat yang percis sama setiap kali ada orang yang mendatanginya;

“Demi bumi dan langit, demi pohon yang menyumbangkan oksigen bagi kehidupan, dan demi ikan yang pandai berenang walaupun tidak pernah diajarkan oleh orang tuanya. Demi burung yang bersayap, dan demi gajah yang berukuran besar”

kalimat itu akan diucap sebanyak dua kali, anda harus bersabar untuk mendengarkannya dan meresapi makna dari kata-kata tersebut.

Setelah itu, sang petapa akan membuka matanya lalu bertanya;
“syahdan anak muda, apa gerangan yang membuat mu datang jauh kemari melewati bukit yang terjal, hutan yang lebat, dan angin yang bertiup dengan kencangnya”

Maka anda harus menjawab dengan tepat
“syahdan guru yang mulia” ulangi ucapan itu sebanyak 3x..
Lalu anda lanjutkan dengan keperluan yang anda inginkan..
bila anda salah dalam menjawab, maka sang petapa akan tidur kembali.

keahliannya sudah terdengar sampai negeri seberang, maka datanglah seorang anak muda yang memiliki permasalahan yang terasa berat, dia tidak bisa tidur karena memikirkan banyak hal dalam kehidupannya. Maka dia ingin mencoba membuktikan keahlian sang petapa.

Maka berangkatlah dia meuju ke guo sang petapa, setelah melakukan riutal yang telah disebutkan di atas lalu meluncurlah sebuah permasalahan

“guruku yang alim dan biijaksana, beberapa hari ini ananda tidak mampu tidur karena memikirkan banyak hal, rasanya berat sekali ujian yang aku terima saat ini, bisakah kiranya bapak yan bijaksana membantu saya?

5 tiupan angin telah masuk kedalam guo, saat sang petapa mulai mengeluarkan ucapnnya:

“Anak ku, tak ada permasalahan yang tidak ada pemecahannya, bahkan batu yang besarpun akan hancur oleh sebuah palu, yang dibutuhkan hanyalah konsistensi untuk terus menghantam batu tersebut dengan palu hingga setelah masanya amaka batu itu akan pecah berkeping-keping”

sang petapa melanjutkan

“anakku, bila memang masalahmu itu besar, coba keluarkan lah dihadapanku, aku ingin melihatnya, apakah dia sebesar gajah, atau paus atau lebih besar dari itu? bila masalahmu memang sebesar itu, maka benar kau pantas untuk bersusah, namun bila kau tak mampu menampakkan seberapa besar malahmu dihadapanku, maka sebenarnya itu bukanlah masalah, namun hanya sekedar kecilnya hati kau menerima segala yang ada”

Anak muda itu pun termenung, meresapi kata-kata dari sang petapa yang bijaksana.

“betul sekali sang petapa, apa yang petapa ucapkan memang sangat betul, saya terlalu memporsir masalah ini, dan saya tidak mau melihatnya dari sudut yang lain, jadi seolah-olah ini masalah besar. Namun nyatanya ini hanyalah masalah prsepsi saya saja. Setelah melihat dan mendengar ucapan bapak, hati saya menjadi tenang, dan rasanya saya mampu menyelesaikan masalah ini”

Lalu sang petapa melanjutkan..

“bila kau memang sudah melihat titik terang menghadapi masalah yang anda sebut besar tadi namun nyatanya kecil, saya pun merasa tenang. Satu lagi nasihat dari saya.
Bila sakit kepala anda terus terjadi, cobalah minum bodrex, namun bila sudah makan, anda bisa meminum panadol, Niscaya pusing anda akan hilang”

sang nak muda pun mengucapkan kata “terima kaih”, dan tiba-tiba saja mata sang petapa kembali terpejam.

Bersambung…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s