Social media tidak akan mampu merubah pemikiran anda

Berdasarkan pengalaman saya yang malang melintang di dunia perstatusan dan perkomentaran, ada satu fenomena menarik yang berhasil saya amati yaitu bahwa orang-orang yang aktif di social media telah memiliki pola fikirnya masing-masing. Saling tanya dan jawab, caci dan puji tidak akan mampu merubah pendirian personal-personal tersebut, yang ada adalah orang-orang tersebut akan makin berusaha untuk mempertahankan argumennya dibandingkan dengan membuka hati untuk melihat segalanya lebih luas (kaya lirik lagu).

Mau sepanjang apapun anda berdalil, memasukkan referensi, dengan kata-kata yang indah, puitis, melankolis bahkan melodrama, bila anda A dan lawan anda B, maka sepanjang jalan kenangan maka anda tetap A dan lawan tetap B.

Kita gunakan studi kasus, Joko-lover vs joko-hater.

Misal si A, Bila dihatinya sudah tidak suka jokowi, maka sebaik apapun jokowi, sebanyak apapun jokowi bekerja demi kemajuan jakarta maka dia akan tetap berfikiran negatif untuk jokowi. Berbagai macam argumen, kinerja, prestasi yang dilakukan oleh jokowi tidak akan mampu merubah hati si A. Tetap saja dia tidak akan suka Jokowi. Setiap berita positif akan diabaikan, setiap berita negatif akan dipublish. Bila ada orang yang memuja jokowi, maka akan dia serang. walaupun pada akhirnya dia salah, pantang untuk mengucapkan maaf.

Misal si B. Dihatinya sangat cinta pada Jokowi, maka segala macam keritik terhadap jokowi akan dianggap angin lalu, bahkan dianggap sebagai orang yang iri, korup, pencari nasi bungkus dan julukan-julukan lainnya. Sebanyak apapun berita kegagalan jokowi, akan selalu ada pembelaan. Saat jokowi berprestasi, maka dia akan gembor kemana-mana, Bila ada yang menyerang, maka akan langsung dibalas. walaupun pada akhirnya dia yang salah, pantang untuk mengucapkan maaf.
Si A akan tetap menjadi A dan si B akan tetap jadi si B, sepanjang hayat didunia maya.

Akan berubah kondisinya bila misalkan, rumah si A kebanjiran, lalu datang Jokowi, ngasih bantuan sembako dan perbaikan rumah. Niscaya si A akan menjadi pro Jokowi.

Begitu juga si B, kalau tiba-tiba tanah dia digusur oleh pemda DKI atas perintah Jokowi, niscaya dia akan memaki-maki jokowi hingga ubun-ubun.

Jadi, percayalah pada saya, dunia maya tidak akan mampu merubah watak anda. yang ada malah anda makin menjadi orang yang egois, tidak mau mengalah dan menganggap anda yang paling benar

Note:

Tulisan ini menjadi instrospeksi bagi saya, yg beberapa bulan terakhir sangat hobi menyinyiran suatu lembaga. Semoga saya bisa berubah.

Saya berfikir, dari pada nyinyir kepada lembaga tersebut, lebih baik saya alihkan pada bidang lain, misalkan tulisa-tulisan bebas seperti saat ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s