Mass balance dalam ekonomi (Perputaran uang dan pengangguran)

Mass balance dalam sistem ekonomi

Hari ini saya mendapatkan kuliah tentang Mass Balance dalam suatu proses produksi. Materi ini sebenarnya sederhana sama dengan materi stokiometri pada kimia dasar, hanya sekedar memperbesar kuantitas saja. Namun yang menarik dari kuliah ini bukanlah pada materi tentang kesetimbangan massa pada reaksi kimia, tapi karena materi ini saya sedikit tercerahkan tentang teori perputaran uang kebutuhan tenaga kerja dan beberapa istilah ekonomi lainnya.

Oke saya akan mulai dari teori dasar dari Mass Balance, pada dasarnya segala yang masuk kedalam suatu sistem akan sebanding dengan jumlah yang keluar dari sistem tersebut. Jumlah keluar bisa disebut dengan produk ataupun by product. Secara matematika sederhana maka kita tulis dengan:

I = P + bP dimana I adalah Input, P adalah produk dan bP adalah by produk.
Rumus itu akan menjadi pegangan kita dalam memahami perputaran uang di dalam suatu Negara. Untuk mempermudah, maka saya akan mengambil subsistem di daerah pedesaan.

Anggota dalam sistem tersebut adalah Petani (Pe), Pedagang (Pd), Pendidik (Pn) dan Masyarakat (Ma). Kita asumsikan bahwa desa tersebut adalah penghasil padi dalam jumlah besar.

Kita mulai sistem kita dari semenjak petani mendapatkan hasil panen. Beras yang dihasilkan dijual ke sistem luar dari desa tersebut dan menghasilkan A rupiah (Input). Petani lalu membelanjakan A kepada Pd untuk membeli kebutuhan hidup serta persiapan masa tanam selanjutnya (B), juga kepada Pn untuk melakukan pembinaan terhadap anaknya (C) dan sisanya disimpan (D). Maka sekarang kita memiliki persamaan A = B + C + D. Pendidik akan mengeluarkan uangnya untuk kebutuhan sehari-hari  kepada pedagang kita sebut dengan (E) dan disimpan dalam bentuk (F). Pedagang juga akan membelanjakan pemasukannya untuk kebutuhan sehari-hari (G) disimpan (H), membayar pendidik (J) dan dikeluarkan untuk modal (M). maka sekarang kita persamaan untuk pedagang adalah B + E = G + M + H + J. sedangkan pendidik memiliki sistem C + J = E + F.

Sebagai input adalah A, Output adalah M dan by product adalah simpanan tiap warga. Maka pada sistem desa tersebut kita akan memiliki A = M + (D +F + H). Dengan (D + F + H) adalah kekayaan yang dimiliki oleh warga tersebut.

Input dari sistem tersebut hanyalah hasil penjualan beras, sedangkan M bisa terdiri dari berbagai macam jenis barang. Semakin banyak M (sistem keluar) maka nilai kekayaan warga (D + F + H) akan mengecil.

Dengan seiring berjalannya waktu, maka jumlah penduduk terus bertambah diiringi dengan pertambahan jumlah angkatan kerja. Sedangkan luas lahan pertanian tidak bertambah sehingga menyebabkan terjadinya pengangguran.

Untuk menyerap tenaga kerja baru tersebut, tentu saja diperlukan tambahan lapangan pekerjaan yang mampu meningkatkan nilai A. Bila lapangan pekerjaan mengambil lahan pekerjaan yang sudah ada, yang terjadi adalah penurunan taraf hidup tiap masyarakat.

Untuk memudahkan pemahaman ini, saya buat ilustrasi sebagai berikut: Pada tahun 1990, jumlah penduduk sebanyak 1000 orang yang mampu menghasilkan panen setara dengan 50.000 gram emas/tahun. Atau setiap warga akan mendapatkan pemasukan sebesar 50 gram emas pertahun. Bila pada tahun 2010 jumlah penduduk menjadi 2000 orang dengan luas lahan yang sama, maka masing-masing orang akan menghasilkan setengah kalinya dari tahaun 1990 atau hanya 25 gram emas/tahun.

Oleh karena itu, maka untuk membuka lapangan pekerjaan bagi penduduk muda, nilai A perlu ditambah, caranya yaitu dengan meningkatkan nilai jual produk hasil pertanian tersebut. Untuk mudahnya, saya buat ilustrasi sebagai berikut:
Pada tahun 1990, beras yang dipanen seluruhnya dijual secara langsung ke luar setara dengan 50.000 gram emas. Lalu semenjak tahun 1995, mulai dibuat industry berbasis beras, misalkan adalah tepung beras, bubur instan dsb. Dengan menambahkan sedikit sentuhan proses, maka nilai jual beras akan meningkat misalkan menjadi setara dengan 80.000 gram emas. Kelebihan penghasilan itu akan setara dengan penyerapan tenaga kerja baru. Dalam teori ekonomi makro biasanya disebut “setiap kenaiakan ekonomi sebesar 1 % akan membuka sekian ribu lapangan pekerjaan”.

Dengan meningkatnya pengeluaran (M) yang diiringi dengan meningkatnya Input (A) maka nilai kekayaan tiap masyarakat stabil dan angka pengangguran berkurang bahkan bisa mendekati nol. Sehingga kestabilan ekonomi tetap tercapai.

Bila kita perbesar dalam sekala Negara, maka seperti itulah pentingnya industri bagi kelangsungan hidup masyarakat. Luas wilayah kita tidak bertambah, sedangkan jumlah penduduk terus meningkat sehingga perlu ada penambahan Input agar lapangan kerja baru selalu tersedia.

Salah satu program pemerintah untuk terus membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat adalah hilirisasi industri, semisalkan karet, kakao, cpo, gambir, buah-buahan, barang tambang dan sebagainya. Setiap pengolahan bahan baku menjadi produk setengah jadi maupun jadi selain meningkatkan nilai tambah tentu saja akan menyerap angkatan kerja baru. Selain itu, diusahakan agar industri-industri besar membuka pabrik di Indonesia contoh adalah dengan meminta RIM untuk membuka pabrik di Indonesia, atau memaksa berkembangnya industri komponen kendaraan dengan program LCGC dan lain sebagainya.

Tentu saja, masalah keberlanjutan industri dan lingkungan perlu juga diperhatikan. Semisalkan dibidang pengolahan tanah, pembuangan limbah, alih guna lahan dsb.

Kira-kira seperti itu tulisan saya untuk malam ini, selamat beristirahat semuanya.
Bogor 9/10/2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s