“Islam yes, partai Islam no” Sebuah slogan yang Tidak Lagi Relevan

Pemilu 2014 sudah di depan mata, sampai saat ini sudah ada 10 partai nasional yang berhak untuk mengikuti hajatan tersebut dan 3 partai lokal aceh (ada 2 partai lagi yang sedang berjuang agar bisa mengikuti pemilu 2014). Ke 10 partai tersebut berturut-turut adalah Partai Demokrat, PDI-Perjuangan, Partai Golkar, PKS, PAN, PKB, PPP, Gerindra, Hanura dan Nasdem. 9 partai adalah peserta pemilu 2009 dan 1 partai baru.

Dari ke 10 partai tersebut, 6 partai berbasis massa nasionalis, dan 4 partai berbasis massa Islam, PPP sebagai partai islam senior dengan basis massa dari berbagai macam golongan, PKB dengan basis NU, PAN dengan basis massa muhamadiyah dan PKS dengan basis massa muslim moderat.

Bila menilik pada hasil pemilu 2009, PKS mendapatkan 7,88%, PAN 6,01%, PKB 4,94%, PPP 5,32% bila dijumlahkan adalah 24,15%. Padahal pada tahun 2010 di data jumlah umat Muslim di Indonesia adalah 87,18%. Artinya adalah hampir 63% umat muslim tidak memilih partai berbasis kan Islam.

Sebuah pertanyaan pun keluar dari kepala saya, kenapa hal ini bisa terjadi? kenapa umat muslim tidak memilih partai islam tetapi lebih memilih partai nasionalis?

Lalu saya teringat sebuah selogan yang di buat oleh Cak NUR yang berkata “Islam yes, Partai Islam NO” mungki slogan tersebut masih kuat menempel di kepala masyarakat Indonesia. Sehingga mereka lebih memilih partai nasionalis dibandingkan dengan partai Islam.

Padahal menurut saya, slogan itu sangat tidak relevan dengan kondisi perpolitikan di Indonesia. Slogan itu muncul karena kekhawatiran terjadinya zaman kegelapan seperti di Eropa pada saat gereja ikut campur dalam mengurus negara. Saya tidak akan teralalu jauh membahas hal ini, tapi yang akan saya bahas adalah bahwasanya umat islam akan maju saat menerapkan Islam dengan sungguh-sungguh, dan akan hancur saat meninggalkan Islam.

Jadi slogan “islam yes, partai islam no” di buat memang untuk menjadikan umat islam tetaplah menjadi bangsa yang lemah yang hanya sekedar mengurusi ibadah-ibadah wajib dan ritual-ritual yang telah menjadi Tradisi dari semanjak zaman nenek moyang. Umat islam tidak boleh mengurusi politik, pemerintahakan karena beranggapan bahwa bila Islam ikut campur maka yang terjadi adalah kehancuran.

Bila kita telusuri lebih jauh pada saat zaman penjajahan, Pejuang-pejuang yang mengusir penjajah dari tanah Indonesia banyak yang berasal dari golongan ulama, Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam bonjol, Cut nYa Dien. Mereka adalah pejuang-pejuang yang meneriakkan takbir untuk mengusir penjajah dari bumi Indonesia. Jadi amatlah salah bila dikatakan bahwa umat islam itu tidak cocok berpolitik.

Bahkan pada saat persiapan kemerdekaan Indonesia, banyak ulama-ulama yang berjuang untuk menegakkan Islam di Indonesia, karena pada dasarnya memang banyak ulama-ulama yang berjuang untuk mencerdaskan bangsa ini dengan menggunkan organisasi-organisai berbasis Islam, terutama NU dan Muhammadiyah. Walaupun pada akhirnya para ulama tersebut mengalah, tidak memaksakan syariat Islam demi persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

Belajar dari sejarah panjang perjalanan umat islam, saat pemimpin menerapkan isi Al-qur’an dan As-sunah secara sungguh-sungguh dan menyeluruh meliputi ibadah, sosial, ekonomi, politik dan budaya maka yang terjadi adalah kemajuan yang amat luar biasa. Hal tersebut bisa dilihat dari sisa-sisa peninggalan umat islam pada zaman kejayaan dan keemasan yang masih dapat di saksikan dan di nikmati hingga sekarang.

Kehancuran umat islam pada awalnya terjadi karena banyaknya umat islam yang mulai meninggalkan syariat islam. membeda-bedakan antara ibadah, ekonomi, politik, sosial dan budaya. sama seperti di Indonesia saat ini yang menjadikan Islam masih sebatas Ibadah wajib. umat islam takut untuk menerapkan islam secara menyeluruh karena berbagai macam hal.

Saya yakin bila umat Islam di Indonesia menjalankan islam secara menyeluruh maka kejayaan Indonesia hanya menunggu waktu. Maksud saya menyeluruh adalah, Umat muslim tidak korupsi karena korupsi di larang dalam Islam, umat islam tidak berzina, tidak mabuk-mabukan, tidak berjudi. Umat islam mengeluarkan zakat secara rutin, membantu yang membutuhkan, rajin berinfaq dan bersedeqah. Umat islam rajin shalat berjamaah sehingga saling bersatu bahu membahu memajukan bangsa agar menjadi sejahtera. Bila semua itu dilakukan, di jamin bangsa ini akan jaya melebihi bangsa eropa dan amerika.

note;
Sayangnya, saat ini banyak partai islam yang hanya menjadikan islam sebagai jargon. Banyak anggota partai, bahkan ALEG dari partai Islam yang tidak melaksanakan syariat islam secara kaffah. bahkan ada yang terlibat korupsi. MUngkin hal ini juga yang membuat masyarakat tidak mau memilih partai Islam.

Namun sebenarnya alasan di atas tidak bisa menjadi dalih untuk tidak memilih partai islam, karena sebenarnya ada partai nasionalis yang menjadi pemenang pemilu yang anggotanya banyak terlibat korupsi, bahkan berlipat-lipat lebih banyak dari anggota partai islam, terkena kasus asusila, bolos dari rapat dan hal-hal negatif lainnya, tapi mengapa mereka tetap dipilih?

Jadi, kenapa umat islam tetap memilih partai nasionalis tersebut yang jelas-jelas anggota DPR/DPRD nya lebih bermasalah dibandingkan dengan partai islam?

Mungkin perlu kajian yang lebih dalam lagi untuk bisa menjelaskan hal tersebut. Semoga saja tahun 2014 nanti partai islam bisa unjuk gigi, minimal 40% umat muslim memilih partai Islam.

3 thoughts on ““Islam yes, partai Islam no” Sebuah slogan yang Tidak Lagi Relevan

  1. Majukan islam di indonesia,tingkatkan ukhuwah islamiyah. Ajarkan anak bangsa spya jauh dr kemerosotan aklak,kebobrokan metal+kriminal,keluarkan dr kemlaratan,tingkatkan persaudaraan tanpa permusuhan..

  2. Pentingnya nilai-nilai ke-Islaman dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Term Islam dalam istilah partai politik dianggap telah mengeliminasi substansi dan Islam sendiri, yang cenderung menempatkan Islam setara dengan sebuah ideologi. Padahal Islam bukan ideology, melainkan agama yang sarat dengan nilai-nilai universal yang inklusif. Pengalaman partai politik yang berlambangkan Islam , ternyata hanya menjadikan Islam sebagai symbol, sehingga Islam tidak mendapatkan tempat yang wajar dan semestinya. Islam merupakan moralitas dalam politik, yang menjadi pedoman dan rambu-rambu dalam melakukan kegiatan politik. Dengan semangat tersebut

  3. Mungkin analoginya begini. Ada 2 org yg mnjanjikan sesuatu pd anda. Yg satu berjanjinya atas nama Allah n AlQuran, pake sorban/hijab panjang kemana2, n lancar mmbicarakan agama. Yg satu lg tidak.
    Ketika ternyata kedua org tsb berbohong pd anda n tdk mmenuhi janjinya, yg manakah yg lebih mmbuat anda kecewa ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s