Kebijkan Ganjil-Genap

[Analisa]

Setelah 2 tulisan terakhir berkaitan tentang pengolhan data, untuk tulisan ini saya akan kembali membahas tentang kondisi ekonomi, sosial, budaya dan politik. Agar hidup ini lebih berwarna.

Saya akan bercerita tentang pembatasan kendaraan bermotor dengan menggunkan sisteme Ganjil-Genap. Sudah lama saya ingin membahas tentang hal ini, namun baru benar-benar yakin untuk menulis setelah melihat foto dari tweet seseorang. Berikut saya tampilkan gambar tersebut:
Gambar

Difoto tersebut tertulis bahwa kota “surakarta gagal terapkan pembatasan ganjil-genap”. Foto tersebut mengingatkan saya dengan kota halaman saya yaitu Bogor. Beberapa tahun yang lalu, kota Bogor pernah menerapkan aturan ganjil genap untuk Angkutan Kota, dan sekarang aturan tersebut sudah tidak diterapkan kembali, artinya adalah program tersebut telah gagal.

Kota bogor adalah kota yang amat “hijau” karena selain memiliki kebun raya bogor di pusat kota, Kota Bogor juga memiliki Angkot dengan jumlah ribuan buah yang mana warna nya adalah hijau. Jadi pantaslah bila kota bogor layak disebut kota yang sukses melakukan penghijauan.

Banyak cara yang dilakukan untuk mengurangi jumlah angkot, namun selalu gagal karena selalu terbentur dengan DISHUB, pengurangan jumlah angkot berarti berkurangnya jumlah perizinan yang artinya adalah berkurangnya jumlah pendapatan asli daerah dari izin trayek.

Maka dibuatlah gagasan yang sangat jenius, yang mana kebijakan ini tidak mengurangi jumlah izin trayek namun dapat mengurangi jumlah angkot yang beroperasi. Caranya adalah dengan membuat pembatasan jumlah angkot dengan membagi angkot tersebut dengan kategori A, B [saya kurang inget detailnya, namun kira2 seperti ini lah]. Angkot berstiker A boleh beroperasi hari senin, rabu, jumat dan minggu, angkot berstiker B beroperasi hari selasa, kamis, sabtu dan minggu. Bila melanggar maka akan dihukum.

Namun sistem ini tidak berlangsung lama karena banyak kendala yang terjadi di Lapangan, selain tidak jelasnya pihak-pihak yang terlibat (siapa yang menindak, apa hukumannya dll. Hal utama yang menyebabkan sistem ini tidak berhasil adalah protes dari para pemilik kendaraan.

Rata-rata pemilik kendaraan membeli mobil dengan cara mengangsur, cicilan tiap bulan mencapai 3juta rupiah yang berarti 100 ribu perhari. Tentu saja pemilik kendaraan harus memikirkan biaya service dan keuntungan, sehingga harga sewa harus lebih tinggi dari harga mobil. Oleh karena itu pemilik kendaraan rata-rata memberikan tarif antara 150 ribu hingga 200 ribu perhari. maka satu bulan diasumsikan mereka mendapatkan uang sebanyak 1,5 juta hingga 2 juta untuk biaya operasional dan keuntungan.

Dengan pembatasan operasional maka jumlah hari kendaraan beroperasi makismal 20 hari yang berarti ada potensi kehilangan uang sebesar 1,5 juta hingga 2 juta. Karena mereka tidak mau mengalami kerugian, harga sewa kendaraan dinaikkan menjadi 200ribu hingga 300ribu perhari. Sekarang yang menjerit adalah para supir angkot.

Karena banyaknya resistensi dan penolakan dari para pelaku di lapangan, akhirnya kebijkan ini perlahan-lahan menjadi tidak lagi efektif dan sekarang kebijkan ini tidak lagi berlaku.

Dari tulisan saya di atas maka saya ingin menyarankan kepada para pembuat kebijkan untuk memikirkan dampak yang akan terjadi pasca penerapan kebijkan tersebut. Perlu diperhitungkan efek positif dan negatifnya. dan bagaimana cara untuk mengurangi efek negatif dari kebijkan tersebut.

Saya sih setuju saja pemberlakuan ganjil-genap asal dapat berjalan dengan efektif sehingga jalanan di jakarta tidak lagi macet. Namun apakah kebijkan ini akan betul-betul berjalan? Jangan seperti kebijkan 3in1 yang hanya sekedar peraturan saja namun realitas di lapangannya tidak mampu mengurangi jumlah kendaraan yang ada malah bertambahnya joki.

Selain itu, Permasalahan transportasi di jakarta sangatlah kompleks. Seperti kurang baiknya sarana transportasi umum, terbatasnya lahan parkir, terbatasnya ruas jalan dan lain-lain.

Semoga penerapan kebijakan ganjil genap ini betul-betul dapat mengatasi masalah kemacetan di jakarta, bukan hanya sekedar slogan atau proyek yang menghambur-hamburkan anggaran. Bila kebijkan ini berhasil tentu saja akan menjadi nilai positif bagi gubernur Jakarta.

B.Lampung, 2/3/13

Karim Abdullah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s