Sebuah pengenalan Singkat tentang “uji banding”

Terlalu sering mengomentari tentang kondisi perpolitikan dan sosial yang terjadi saat ini ternyata membuat saya menjadi bosan. Oleh karena itu maka pada kesempatan kali ini saya akan membahas tentang ilmu dasar yang saya miliki yaitu “kimia analitik”

Untuk orang-orang yang berkecimpung di dunia “kimia analitik” mungkin sudah tidak asing lagi dengan kata “uji banding, uji profisiensi”, namun untuk sebagaian masyarakat istilah itu tidak terlalu familiar. oleh karena itu pada tulisan ringkas ini saya ingin berbagi tentang apa itu uji banding.

Kenapa harus dilakukan uji banding.? karena sebagai laboratorium yang menerapkan ISO SNI 19-17025-2008 harus menerapkan semua persyaratan yang ada di dalam SNI tersebut. Salah satu pasal yang ada dalam SNI tersebut adalah pasal 5.9 yang berbunyi “Laboratorium harus mempunyai prosedur pengendalian mutu untuk memantau keabsahan pengujian yang dilakukan. Pemantauan tersebut mencakup;1 keteraturan penggunaan bahan acuan bersertifikat, partisipasi dalam uji banding anatar laboratorium atau program uji profisiensi, dan lain-lain”. Itu adalah dasar kenapa uji banding/uji profisiensi harus dilakukan.

Sekarang saya akan menjelaskan apa itu uji banding. Sebuah produk yang akan dijual kepada konsumen harus lah sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan. Banyak pengujian yang harus dilakukan sebelum produk tersebut mendapatkan label siap diedarkan. Ada pengujian secara kimia dan ada juga pengujian secara fisika. Nah saya akan memfokuskan pada pengujian secara kimia. Karena hasil pengujian ini amat penting bagi keberlangsungan produk tersebut, maka data hasil pengujian haruslah akurat sesuai dengan kondisi yang sebenarnya. Bagaimana kita mengetahui bahwa hasil analisa itu telah sesuai atau tidak sesuai? itu dapat dilakukan dengan berbagai macam cara seperti yang saya tulis pada paragraf ketiga “bisa melalui uji bahan bersertifikat atau dengan cara melakukan uji banding”

Untuk uji bahan bersertifikat atau yang biasa disebut dengan CRM (certified Reference material) memiliki kendala dalam hal ketersediaan bahan tersebut, selain harganya mahal, keberadaanya pun sulit untuk ditemukan. Oleh karena itua maka dilakukan cara ke-dua yaitu uji Banding. Apa itu uji banding? yaitu pengujian suatu sampel yang sama di berbagai lab yang berbeda untuk mengetahui apakah hasil yang didapat telah akurat atau belum.

Sederhananya adalah sebagai berikut; Saya menguji kandungan vitamin C di dalam suatu minuman. Saya mendapatkan hasil analisa bahwa kandungan vit-C adalah 100ppm, apakah hasil saya itu telah sesuai atau belum? untuk mengetahuinya maka saya kirim sampel saya tersebut ke Laboratorium lain untuk diuji kandungan vitamin C nya. Bila lab itu menghasilkan angka yang tidak jauh berbeda dengan 100ppm berarti pengujian kita bisa disebut akurat, namun bila tidak sama maka perlu dilakukan investigasi kenapa hasil analisa tidak sama padahal sampel yang di uji sama.

Namun pada kenyataanya, prosedur uji banding dan uji profesiensi tidak sesederhana itu. Banyak tahapan yang harus dipersiapkan hingga akhirnya kita dapat menarik kesimpulan bahwa hasil analisa kita tersebut telah sesuai atau belum? adapun tahapan-tahapan yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:

1. tahap Persiapan
Pada tahap ini kita mempersiapkan kebutuhan untuk uji banding meliputi tim yang akan bertanggung jawab dalam uji banding, sampel yang akan diuji, waktu pengujian serta cara mengolah data.

2. Tahap persiapan sampel.
Sampel yang diuji harus dalam keadaan homogen. Untuk menghomogenkannya dapat dilakukan dengan berbagai macam cara. Sampel padatan dihomogenkan dengan cara penghalusan terlebih dahulu hingga ukuran 200mikor, lalu diaduk. Setelah itu sampel dimasukkan ke dalam wadah yang sesuai seperti alumunium foil atau lainnya. JUmlah kantong sampel harus sebanyak jumlah lab uji yang akan menguji ditambah dengan 10 sampel untuk uji homogentias dan 3 sampel untuk uji stabilitas. Bila peserta uji adalah 7 lab maka sampel yang disiapkan adalah 20 kantong. Sampel yang telah disiapkan tersebut selanjutnya diuji homogenitasnya dengan cara mengambil 10 sampel, kemudian diuji dengan metode yang telah ditentukan. data hasil uji selanjutnya dihitung dengan suatu perhitungan statistik yang. Bila nilai uji lebih kecil dari nilai teoritis berarti sampel tersebut siap untuk disebar.

3.tahap pengiriman.
Sampel dikirim kepada peserta uji banding dengan menggunkan wadah khusus yang dapat mencegah kontaminasi atau kerusakan sampel.

4. Tahap analisa

Sampel dianalisa oleh masing-masing Laboratorium sesuai dengan metode yang mereka gunakan. data yang diperoleh selanjutnya diserahkan kepada panitia untuk dihitung dengan menggunkan metode analisa tertenut.

5.Tahap perhitungan

Perhitungan dilakukan dengan menggunkan Z-score atau robust Z-score. Perhitungan dengan menggunakan metode ini akan menghasilkan nilai bagi masing-masing peserta uji. ada 3 kategori yaitu kompeten, diperingati dan yang terakhir adalah outlier. Namun bila peserta uji banding hanya 2 Laboratorium dapat diuji dengan menggunkan t-student. Untuk menghitung dengan menggunkan Z-score, data yang didapat sebaiknya diuji terlebih dahulu dengan menggunkan uji dixone atau grubss untuk membuang data yang outlier. Pembuangan data ini penting agar data keseluruhan tidak menjadi kacau.

Tulisan ini hanya sekilas saja, untuk lebih detailnya akan dibuat tulisan-tulisan lainnya.

Semoga bermanfaat.

untuk diskusi lebih lanjut dapat menghubui e-mail saya di karim.abdullah@yahoo.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s