Dilema harga BBM 2

Lanjutan dari Status sebelumnya tentang “dilema harga BBM”

Harga BBM sangat berkaitan sekali dengan kepentingan politik, seperti yang saya gambarkan pada tulisan sebelumnya yang mengambil contoh kenaikan BBM pada tahun 2005 menyebabkan inflasi mencapai 17%, 9% lebih tinggi dari target tahun itu yang sebesar 8%. *pada tahun 2005 kenaikan BBM 200% dari harga pada tahun sebelumnya

Untuk menguatkan hipotesa tersebut, mari kita lihat inflasi pada tahun 2008. Pada tahun itu pemerintah menaikkan harga BBM dari 4500 menjadi 6000, naik sebesar 1500 atau 33% dari harga sebelumnya. Inflasi yang ditergetkan pemerintah hanya 5%, namun kenyataannya pada tahun itu inflasi mencapai 11% atau 6% di atas target. 6% inflasi setara dengan (Rp 21.000.000 x 250.000.000 jiwa x 6% = Rp 350.000.000.000.000 (350 triliyun)).

Hal menarik selanjutnya adalah, meskipun inflasi pada tahun 2008 mencapai 11%, namun pada tahun 2009 partai demokrat sebagai partai penguasa mampu memenangkan pemilihan umum. mungkin orang akan berfikir bahwa kenaikan harga BBM tidak mempengaruhi pilihan rakyat.

Namun bila di analisa lebih mendalam, ternyata pada akhir tahun 2008 pemerintah menurunkan harga BBM sebesar Rp1.000 menjadi Rp 5.000 (dalam 2 tahap). ini adalah senjata yang digunakan untuk menarik simpati rakyat. Penurunan BBM pada akhir tahun 2008 menjadikan inflasi pada tahun 2009 hanya 2,78%. maka rakyat menganggap bahwa SBY adalah president yang berhasil.

Hal menarik lainnya dari harga BBM adalah, setelah harga BBM dinaikkan dan terjadi inflasi yang tinggi, setelah beberapa bulan roda ekonomi akan berjalan dengan normal kembali dan rakyat akan terbiasa dengan harga yang baru. hal ini ditunjukkan pada nilai inflasi yang stabil pada tahun setelah kenaikan BBM.

Jadi secara politik, seharusnya harga BBM dinaikkan pada tahun 2012 karena pada tahun 2013 ekonomi akan stabil kembali sehingga partai penguasa akan percaya diri menghadapi pemilu di tahun 2014.

Disinilah cerdik dan liciknya partai lawan politik. mereka tidak ingin partai penguasa kembali menang di tahun 2014, maka dibuatlah taktik agar kenaikan bbm tidak terjadi pada tahun 2012 namun tetap naik pada tahun 2013. Ini akan menjadi senjata yang ampuh untuk menjatuhkan partai penguasa.

Bila tidak ada tsunami ekonomi, mungkin kenaikan BBM akan terjadi pada tahun 2014 akhir atau tahun 2015 awal. Siapapun pemenang pada tahun 2014 akan menanggung beban yang berat tersebut.

Secara hitung-hitungan ekonomi, harga BBM memang harus naik agar pemerintah mempunyai dana segar untuk melakukan pembangunan. Inflasi yang tinggi pada tahun berjalan hanya akan berlangsung sesaat karena pada tahun selajutnya ekonomi akan kembali stabil.

 
*catatan

variabel yang saya masukkan sesuai dengan kondisi pada tahun 2005 dan 2008. Mungkin inflasi akibat kenaikan BBM bisa ditekan bila dilakukan kebijakan-kebijakan efektif, salah satunya penghematan (namun bagaimana caranya? itu yang menjadi PR kita semua)

*oh ya, salah satu sifat dasar rakyat Indonesia adalah pelupa dan Pemaaf. waktu 2 tahun cukup untuk melupakan dosa-dosa masa lalu. buktinya golkar yang pada tahun 1998 dicaci dan dihina, namun pada tahun 2014 di prediksi akan menjadi partai pemenang.

itulah politik….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s