Kemandirian Pangan

Mumupung sedang hangat-hangatnya masalah impor daging, dan berbarengan dengan selesainya tugas “ngukur jalan” dari lampung sampai aceh.

Tulisan saya kali ini bertema “Kemandirian Bangsa”

Hampir 70 tahun indonesia menjadi negara yang merdeka, berdaulat dan berhak menentukan kehidupannya sendiri tanpa campur tangan bangsa lain. Namun pada kenyataanya ternyata kemerdekaan itu hanyalah sebuah fatamorgana, karena ternyata sampai saat ini kita masih didikte oleh negara asing, masih menggunkan produk-produk asing, masih menggunakan KUHP bikinan belanda.

Bila semua hal tersebut saya bahas, tidak akan cukup 10 halaman dan tentu saja anda akan cepat bosan membacanya, oleh karena itu maka saya akan memfokuskan pada kemandirian pangan.

Negara Indonesia itu amat luas, Kemarin saya baru mengelilingi pulau sumatera dari ujung lampung hingga ujung aceh dengan menggunkan jalur darat, saya membutuhkan total waktu hingga 10 hari untuk sampai di aceh (saya beristirahat saat malam hari, dan siang hari berputar-putar mengelilingi kota).

Dari perjalanan itu dapat saya gambarkan bahwa tanah Indonesia itu sangat luas dan banyak daerah yang belum di olah secara maksimal (bahkan minimal pun tidak). Jadi amat menyedihkan bila kita masih harus impor produk-produk hasil pertanian, perkebunan ataupun peternakan.

Kita mulai dari bengkulu, bila anda memasuki bengkulu dari arah lampung atau tepatnya daerah krui, maka berhati-hatilah di jalan raya karena di kanan kiri anda banyak sekali sapi yang berlalu lalang, sapi tersebut tidak akan mengucapkan permisi saat akan menyebrang sehingga anda yang harus waspada bila tidak ingin terjadi kecelakaan. Sapi itu dibiarkan begitu saja oleh pemiliknya untuk mencari makan, saya kurang paham bagaimana cara membedakan mana sapi milik saya dan mana sapi milik orang lain. Yang jelas sapi di bengkulu sangatlah banyak. Itu baru di bengkulu.

Jadi aneh bila kita harus mengimpor sapi dari amerika, australia ataupun cina. Kenapa ga beli sapi dari begkulu saja? bila harga sapi di Indonesia lebih mahal dibandingkan sapi impor, ya itulah tugas pemerintah untuk membina peternak sapi agar harga sapi menjadi murah. ga susah sih ternak sapi itu, sediakan padang rumput yang luas, bikin kandangnya, siapin makanan, vitamin dan obat-obatnya, tenaga kerja mah akan berdatangan dengan sendirinya. Yang susah itu membuat pasar untuk menjualnya. percuma saja jumlah sapi lokal banyak kalo sapi impor harganya lebih murah.

Sampai sini mungkin akan ada yang protes, sesuai hukum ekonomi maka kita akan mencari harga yang murah dengan kualitas yang tinggi. Maka sapi impor adalah solusi, harga murah, kualitas tinggi. Masa bodo dengan sapi lokal. Orang yang berfikir seperti itu menurut saya adalah orang yang egois. coba anda berfikir lebih panjang dikit, bila anda ga mau mikir panjang, sini saya jelaskan dengan sederhana.

sapi Impor

Keuntungan:
1.Harga murah
Kerugian
2.uang terbang ke negara produsen
3.Devisa berkurang
4.Neraca perdagangan negatif

Untungnya cuman 1, harga murah, sisanya lebih banyak ruginya.

Coba bila pake sapi lokal;

Peternak berternak sapi membutuhkan vitamin, pakan, obat-obatan -> pasar bahan pokok terbuka, membuka lapangan pekerjaan.
Rumah potong hewan ->lapangan pekerjaan
Petani dapet uang ->benerin rumah ->lapangan pekerjaan
Petani dapet uang-> uang petani jadi banyak ->bayar pajak -> benerin jalan.
orang akan sibuk ngurus sapi, maka ga ada waktu buat bikin rusuh, maling dan tindakan kriminal lainnya. dari pada berbuat negatif mending ngurusin sapi, udah jelas untungnya.
Kalo ngurus sapi aja udah untung, maka pengamen, pengemis di kota kan pulang kampung buat ternak sapi. ngapain dikota panas-panasan, mending di desa ternak sapi sambil maen suling. uang nya banyak, halal nya terjamin.

Akan banyak orang yang hidup dari ternak sapi, pada awalnya harga daging akan mahal karena biaya produksi masih besar, namun dengan populasi sapi yang besar maka harga akan semakin murah.

Yang menjadi masalah, bila tidak dimulai dari sekarang, akan sampai kapan kita akan ketergantungan dengan asing dalam hal penyediaan sapi.
Masa yang untung dari daging sapi cuman importir dan pedagang saja? harusnya para peternak juga mendapat untung.

itu baru sapi, belum lagi garam, singkong, buah-buahan, beras, dan sebagainya. coba semuanya bisa dibuat di dalam negeri, mungkin Indonesia akan kekurangan orang untuk bekerja.

Namun, apakah pemerintah berani untuk melakukannya?
Baru membatasi kuota impor sapi aja, mentri nya dah diobok-obok.. ah Indonesia.

Bogor, Februaru 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s