Bandara dan Romantisme nya

Dari sekian banyak tempat yang ada di dunia ini, saya rasa Bandara adalah tempat yang akan menyajikan suasana paling dramatis dalam adegan yang menceritakan tentang perpisahan. Maka dari itu, banyak film yang menjadikan bandara sebagai latar belakang saat menyajikan sesi perpisahan. Sebagai contoh adalah Ada Apa Dengan Cinta, bagaimana seorang Cinta tergesa-gesa pergi ke bandara untuk mengucapkan perpisahan kepada Rangga. atau dalam film cinta silver, bagaimana saat sang pria membujuk sang wanita untuk menikah dengannya.

Namun bandara juga sebenarnya dapat menjadi tempat yang membahagiakan, yaitu saat bertemu di terminal kedatangan. Namun sisi dramatis yang ada tidak terlalu dahsyat dibandingkan saat melepaskan kepergiaan. Sehingga jarang ada film yang menyajikan adegan pertemuan di bandara. keculi adegan saat para Fans menyambut artis pujaannya di bandara.

Sedangkan bagi saya, bandara adalah suatu tempat yang merefleksikan tentang arti perjuangan. Tempat untuk introspeksi diri mengenai pencapaian-harapan-impian yang telah dan yang belum di raih. Saking seringnya saya menggunakan bandara sebagai salah satu tempat yang disinggahi sebelum sampai di Bogor (namun saya rasa ada orang yang lebih sering melakukannya), sisi dramatis dari bandara sudah hilang, yang saya rasakan adalah campuran rasa antara bahagia, sedih, lelah, bergairah dan rasa lainnya. Bahagia karena dalam beberapa jam ke depan saya akan bertemu dengan keluarga tercinta, sedih karena saya hanya bisa bertemu dengan keluarga hanya beberapa saat, lelah membayangkan perjalanan yang akan ditempuh beserta resiko yang akan dihadapi. namun saya tetap bergairah karena akhirnya saya akan pulang dan meninggalkan rutinitas yang telah saya lalui.

Kelelahan yang saya rasa sepertinya tidak dapat dibandingkan dengan lelahnya kawan saya bila ingin bertemu dengann keluarganya. Membayangkan dia harus melalui 4 buah bandara sebelum sampai di tujuan. Membayangkan 3 penerbangan yang harus ditempuh demi bertemu dengan keluarga hanya beberapa hari dan itu menjadi suatu rutinitas.

Saat menunggu pesawat di bandara, kadang saya merasa iri dengan orang-orang yang duduk bergerombolan mengenakan baju santai yang sedang dalam rangka melakukan perjalanan wisata. Saya rasa bagi mereka bandara adalah tempat yang amat menyenangkan karena itu adalah awal dimulainya kesenangan.

Ah, memang suatu rutinitas itu akan menghilangkan sisi romantis dalam suatu adegan. Jangankan mengenai bandara, bahkan dalam menjalani hubungan pun, hal-hal yang awalnya romantis akan menjadi suatu hal yang biasa mana kala telah menjadi suatu rutinitas.

*terbangun di tengah malam dan membayangkan 18 jam kedepan saya akan memulai rutinitas perjalanan pulang ke bogor.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s