PNS (Di caci namun Di nanti) episode 2

Pada Episode satu saya bercerita tentang tidak meratanya penyebaran SDM berkualitas di lingkungan PNS, PNS yang memiliki kompetensi tinggi terpusat di kemtrian dan lembaga negara yang berada di jakarta sedangkan SDM daerah memiliki kualifikasi yang cukup jauh di banding SDM pusat, kenapa itu bisa terjadi?

Secara mudahnya akan saya ambil studi kasus di Provinsi lampung. Universitas di lampung yang memiliki akreditasi A tidak lebih dari 10 Program studi, bahkan untuk master kurang dari 3 program studi. Akreditasi perguruan tinggi berkaitan erat dengan ketersediaan fasilitas pendukung serta kompetensi staf pengajarnya. Untuk lebih detail tentang akdreditasi perguruan tinggi dapat di buka di web Dikti.

Namun bila berbicara secara kuantitatif memang jumlah universitas di lampung cukup banyak, tapi yang ingin saya garis bawahi adalah kualitas dari lulusan perguruan tinggi tersebut. Para lulusan tersebut yang akan menyebar ke berbagai pelosok lampung untuk bekerja menurut profesi nya masing-masing. salah satunya adalah menjadi PNS.

Dari Cerita di atas maka dapat kita lihat bahwa kompetensi PNS di daerah amat minim padahal ujung tombak pembangunan berada di tangan mereka.  Itu baru bercerita tentang provinsi Lampung yang hanya berjarak beberapa ratus Kilometer dari jakarta, maka bisa dibayangkan bagaimana kompetensi PNS yang jauh dari jakarta/kota-kota pendidikan.

Sebenarnya ada putra daerah yang memiliki pendidikan tinggi karena telah mengenyam pendidikan di universitas yang baik, namun banyak dari mereka yang tidak mau kembali ke kampung halamannya karena berbagai macam hal, sehingga transfer ilmu yang seharusnya menjadi tanggung jawab mereka menjadi tidak terlaksana. Pulang kampung saja tidak mau apalagi menjadi PNS daerah.

Maka tidak lah heran bila pelayanan di daerah amat lambat. Selain masalah SDM, ada lagi masalah utama dalam birokrasi di pemerintahan daerah yaitu Politisasi birokrat karena adanya PILKADA

Pilkada secara langsung menyebabkan ongkos politik menjadi tinggi sehingga setelah seorang terpilih maka yg pertama dipikirkan adalah mengembalikkan biayanya.. maka di mulai lah para PNS masuk ke dalam lingkungan politik, kepala dinas menjadi sapi perahan para pemimpin tersebut. masing masing kepala dinas mencari proyeknya masing-masing agar bisa membayar upeti bagi pimpinan barunya, salah satunya ya dinas kepegawaian yang menjadikan rekrutmen PNS sebagai cara untuk mendapatkan penghasilan tambahan…. maka akan sulit bagi orang yang jujur untuk masuk ke dalam lingkungan birokrasi…  Yang ada  adalah siapa yang mampu bayar, atau siapa yang punya kenalan lebih dekat maka dialah yang akan diterima.

Maka apa yang bisa diharapkan dari orang-orang yang didapat dari proses yang tidak baik tersebut. Mereka bukan nya bekerja untuk mengabdi tapi bekerja untuk mengembalikan modal, yang ada di kepala hanyalah bagaimana cara agar bisa mendapatkan uang yang banyak untuk mengembalikan modal yang telah mereka keluarkan.

bersambung ke episode 3

*spoiler
Bagaimana cara nya agar dapat memberbaiki birokrasi…

One thought on “PNS (Di caci namun Di nanti) episode 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s