doa untuk anakku

Matahari tepat berada di atas kota Bogor, sengatannya membara menghantam segala benda yang menghalangi sinarnya membuat udara menjadi panas. Satu dua bulir keringat mulai menetes dari badanku, bercampur dengan keringat dingin yang keluar karena kegelisahan. Waktu berjalan terasa lambat, keringatpun makin meluncur dengan derasnya membasahi baju yang aku kenakan. “ah, kenapa waktu rasanya lambat sekali” begitu keluhan yang kuucapkan kepada angin dengan sedikit berbisik. Ternyata, selambat-lambatnya waktu bergerak dia pasti akan sampai juga. Ah, saatnya telah tiba, seorang suster masuk ke dalam ruangan dengan membawa kursi roda, dengan lembut dia mempersilahkan sang pasien untuk duduk di kursi tersebut. Lalu kesunyian kembali menyergap, yang terdengar hanyalah bunyi roda ban yang berputar. Lorong demi lorong dilewati dengan perlahan hingga sampai lah di depan sebuah pintu yang akan memisahkan ku dengan dirinya.

Perlahan ku panjatkan Do’a demi kelancaran proses yang akan berlangsung. Tanpa dapat di jaga, beberapa bulir air mata mulai membasahi kelopak, timbul perasaan tak berdaya sehingga yang ada hanyalah harapan kepada Allah SWT agar proses dapat berjalan dengan lancar.

Waktu itu akan selalu kuingat, 17 September 2012 pukul 14.10 WIB. Seseorang memanggil “ Keluarga ibu Niken” lalu aku begegas mendekati suara itu. “Anda suami nya Ibu Niken?, Selamat, anak anda telah lahir berjenis kelamin perempuan, sekarang ibu dan anak sedang berada di ruang pemuliahan” lalu air mata kembali menetes, aku telah menjadi seorang ayah.

Ah, rasanya baru kemarin aku di lahirkan oleh ibuku, rasanya baru kemaren aku masih berkejaran berebut laying-layang, rasanya baru kemarin aku dinina bobokan oleh ibuku, ah rasanya baru kemarin aku belajar membaca dan berhitung, ah rasanya baru kemarin aku menangis saat ibu dan ayah harus pergi bekerja. Dan sekarang saya sudah menjadi seorang Ayah.

Lalu masa itu pun tiba, pertemuan pertama aku dan sang buah hati. Matanya masih tertutup, namun senyumnya telah berkembang, sungguh cantik rupanya seperti ibu nya. Ku dekati dirinya dengan perlahan, ku tatap wajahnya yang indah lalu kubisikkan ke telinga kanannya kalimat adzan, dan kubisikkan ke telinga kirinya kalimat iqobah lalu ku berdoa “

 

Lalu mengalun perlahan nasihat luqman kepada anaknya

 

Anakku, selamat datang di dunia yang fana ini, dunia yang hanya menjadi persinggahan sementara sebelum kita sampai di tempat yang abadi kelak. Anakku, jadilah orang yang beriman yang mengesakan Allah SWT, yang melaksanakan segala sesuatu hanya karena mengharap ridha Allah SWT. Anakku, jadilah anak yang tangguh dalam menghadapi cobaan, namun lemah lembut dalam menghadapi sesama. Jadilah orang yang bermanfaat bagi diri sendiri, bagi keluarga, bagi masyarakat, bagi umat dan bangsa ini. Jadilah kau perempuan yang mulia, seperti Ibunda Aisyah RA, perempuan yang menjaga kehormatannya, kesuciannya dan kemuliaanya. Namun jangan lupa untuk selalu beribadah kepada Allah SWT, menunaikan shalat di awal waktu, menambah dengan shalat-shalat sunnah, membaca, menghafal dan memahami Al-Qur’an dan melaksanakan ibadah lainnya. Anakku, kau boleh terbang setinggi yang kau mau, menjelajah ke daerah yang engkau inginkan, namun janganlah lupa untuk pulang, jangan lupa akan qodratmu sebagai wanita yang memiliki kewajiban untuk berbakti kepada suami dan membina anak-anakmu kelak. Anakku, dunia ini tak seindah yang kau bayangkan. Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah sementara sehingga perbanyaklah bekal mu untuk nanti di alam yang kekal sana.

B. Lampung 24 September 2012

 

2 thoughts on “doa untuk anakku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s