Sulitnya Menjadi Pengusaha “di Indonesia” part 1

Sebagai orang yang bekerja di lapangan, tentu saja banyak pengalaman yang bisa didapat. Melihat lingkungan yang luas dengan aneka ragam bentuk dan perilaku serta dengan berbagai macam tipe masyarakat. Selama 2 tahun bekerja, hampir seluruh kabupaten dan kota di Lampung telah saya kunjungi (walaupun sebatas melintasi jalannya saja). Kalianda sebagai pintu gerbang sumatra (bila melewati peelabuhan merak-karena bila menggunakan pesawat maka pintu gerbang nya berada di Natar-bandara raden inten II), hingga mesuji sebagai kabupaten yang berbatasan dengan palembang, pesawaran dengan bukit barisannya hingga way kambas dengan penangkaran gajahnya.

Dalam setiap tugas di lapangan, saya selalu mengamati tentang kondisi perusahaan dan perilaku orang-orang yang ada di dalamnya. saya pun sangat suka bertanya kepada orang-orang baru (walaupun kadang kala pertanyaan saya tersebut dianggap seperti pertanyaan anak kecil), bertanya tentang proses produksi, besarnya penghasilan hingga hubungan antara perusahaan-karyawan ataupun hubungan antara perusahaan-masyarakat. Setiap perusahaan memiliki karakter yang berbeda-beda sesuai dengan nilai-nilai yang dibangun oleh manajeman.

Cukup 2 paragraf pendahuluannya, saya akan langsung masuk ke dalam inti cerita. Ternyata mengelola perusahaan itu sangat lah sulit, karena bukan hanya memikirkan tentang cara memproduksi barang lalu menjulanya. Banyak faktor-faktor lain yang mempengaruhi keberhasilan suatu perusahaan. Setidaknya ada beberapa hal yang menjadi masalah pada perusahaan diluar masalah produksi dan pemasaran:

1. Hubungan antara Perusahaan dan Masyarakat.
Banyak perusahaan yang memiliki program CSR yang bagus namun masih saja di rong-rong oleh masyarakat sekitar. Ini biasanya terjadi pada perusahaan yang berlokasi di daerah yang berbatasan langsung dengan penduduk pribumi/penduduk yang telah lama tinggal di daerah tersebut. Sebutlah suatu perusahaan A di daerah lampung tengah, dari segi produksi dan pemasaran dia termasuk salah satu pabrik terbesar dalam produk nya, namun beberapa bulan yang lalu mereka di demo oleh warga sekitarnya dengan alasan perebutan masalah pengelolaan tanah. Hampir 500 orang mendatangi perusahaan tersebut, untuk menghindari terjadinya bentrok seperti di mesuji maka pihak perusahaan meng-hubungi pihak berwajib untuk menjaga perusahaan mereka. Sore hari demo selesai, namun perusahaan tidak mau mengambil resiko, maka mereka meminta bantuan kepada aparat untuk menjaga pabrik mereka hingga 3 bulan ke depan. jumlah aparat yang disiagan mencapai 500 orang.
coba hitung biaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan untuk membayar uang saku 500 aparat tersebut selama 3 bulan? padahal pada awalnya ini bukan termasuk biaya produksi. pasti ada anggaran yang harus dikorbankan, dan yang kena pemotongan adalah karwayannya (bonus mereka telat dibayar).
hanya karena 500 orang yang demo dalam 1 hari menyebabkan perusahaan harus mengeluarkan dana ekstra yang sangat banyak.

*selidik punya selidik, katanya demo itu dilakukan oleh orang suruhan salah satu calon bupati yang meminta dukungan ke perusahaan tapi perusahaan malah mendukung calon yang lain.

di atas itu sekala perusahaan besar, ada lagi cerita tentang IKM yang bersinggungan dengan tetangganya. begini ceritanya :

beberapa hari yang lalu, saya ditugaskan untuk mengecek kualitas air sumur warga di daerah lampung timur. sebagai klien saya adalah perusahaan pembuat pupuk mikroba sekala IKM. 2 bulan yang lalu terjadi hujan yang besar dan salah satu bahan baku mereka tumpah sehingga mengalir ke sumur tetangga. lalu tetangga tersebut komplain. Sebagai bentuk tanggung jawab, maka pihak perusahaan mendatangi rumah tetangga tersebut lalu membersihkan sumurnya dengan cara di sedot, di tambahkan penetral dll.

Ternyata tetangga tersebut mencari kesempatan dalam kesempitan, dia masih tidak terima, dia malah meminta berbagai macam barang ke perusahaan, Perusahaan tersebut tidak mengabulkan permintaan tetangga tersebut dengan alasan itu sudah diluar konteks masalah.

Beberapa hari kemudian, perusahaan itu didatangi oleh pihak berwajib yang datang atas laporan dari tetangga tersebut. Polisi mengecek lokasi kejadian perkara, ternyata tidak ada masalah, maka polisi tidak melanjutkan penyelidiakkannya.

tetangga tersebut masih belum puas, lalu dia mengadu ke LSM dan media, maka ramailah perusahaan itu didatangi oleh orang-orang. lalu masuklah ke dalam berita bahwa perusahaan itu mencemari lingkungan sekitar.

Merasa berada dalam kondisi yang terancam, maka pihak perusahaan ingin membuktikan bahwa sumur-sumur warga itu tidak tercemar. Maka berangkatlah saya menuju ke perusahaan tersebut untuk mengambil sampel, yang secara sekilas memang kualitasnya sudah baik (normal)

Namun rumah tetangga yang komplain tidak mau diambil sampelnya dengan alasan kasus ini sedang di urus oleh pihak berwajib. Tetangga itu tidak mau berdamai dengan perusahaan dong…

*selidik punya selidik, tetangga itu minta uang damai 1 Milyar. Gila aja lu ndro, perusahaan dgn omzet 150 jt perbulan dg 20 orang karyawan di todong 1 M…?

Susah kan jadi pengusaha?
Tapi kalo udah tau celahnya, enak ko jadi pengusaha…

Bersambung ke part 2…………………

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s